Game Fortnite Jadi Pencuci Uang

Cahyandaru Kuncorojati    •    Kamis, 24 Jan 2019 12:51 WIB
gamesfortnite
Game Fortnite Jadi Pencuci Uang
Transaksi di game Fortnite menggunakan V-Bucks.

Jakarta: Dark web bukan satu-satunya ranah kejahatan siber di era digital. Kini game juga mulai dijadikan sebagai alat kejahatan. Dikutip dari Variety, game Fortnite kini menjadi salah satu alat pencucian uang.

Firma intelijen siber bernama SixGill menemukan bahwa aksi pencucian uang di game dilakukan oleh peretas yang berhasil membobol sistem perbankan seperti kartu kredit milik seseorang. Metode kejahatan ini sudah lama dikenal dengan istilah carding. Pelakunya bisa mendapatkan informasi perbankan seseorang melalui metode penipuan atau scamming.

Jadi, mereka menggunakan kartu kredit korban untuk membeli item in-app dalam jumlah besar dengan akun game yang mereka telah mereka buat. Kemudian, mereka menjual akun tersebut pda gamer.

Di Game Fortnite, ada mata uang dalam game bernama V-Bucks untuk transaksi di dalam game. V-Bucks hanya bisa dibeli menggunakan uang nyata.



Mengapa Fortnite yang dijadikan alat pencuci uang? Fortnite adalah game yang bisa diunduh dan dimainkan gratis. Game tersebut sangat populer, setidaknya di Amerika Serikat dan Eropa, dengan beragam item in-app. Game ini juga mendukung bisa dimainkan di berbagai platform, termasuk perangkat mobile.

"Kepopuleran Fortnite telah dilirik oleh penjahat siber. Semakin banyak modus penipuan dan kejahatan yang memanfaatkan kepopuleran game ini, setelah penipuan, kini ada juga pencucian uang," tulis firma SixGill dalam laporannya.

SixGill menemukan akun-akun Fortnite yang dibuat oleh pelaku kejahatan siber. Salah satu kanal penjualan akun-akun itu adalah eBay. Dalam transaksinya, pelaku hanya menerima pembayaran lewat bank transfer atau PayPal. Apabila transksi sukses, maka pelaku akan mengirimkan email serta password akun Fortnite yang dijual. SixGill menyatakan bahwa cara penjualan ini sangat laris di eBay.

Pihak Epic Games selaku pemilik Fortnite telah merespon laporan ini. Firma SixGill menilai bahwa Epic Games seharusnya mencurigai akun yang melakukan transaksi dalam jumlah besar. Di satu sisi, transaksi dalam game merupakan sumber pendapatan bagi sebuah developer.

Sebelumnya sebuah hasil riset memberikan Fortnite sebagai game gratis atau free-to-play dengan jumlah pendapatan paling besar. Pendapatan itu berasal dari transaksi di dalam game.


(ELL)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.