Bukan Steam, Metro Exodus Pilih Epic Games Store

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 29 Jan 2019 10:25 WIB
games
Bukan Steam, Metro Exodus Pilih Epic Games Store
Persaingan layanan distribusi digital Epic Games Store versus Steam.

Jakarta: Metro Exodus menjadi game kelas AAA kedua yang memilih tidak dijual lewat Steam, setelah Tom Clancy's The Division 2 buatan Ubisoft.

Kedua game ini akan rilis di layanan milik pembuat Fortnite, Epic Games Store. Hal ini dipastikan oleh pihak Deep Silver, penerbit game Metro Exodus lewat pengumuman di halaman Steam.

Namun, bagi gamer yang terlanjur melakukan pemesanan atau pre-order di Steam, tetap akan mendapatkan dukungan penuh untuk game tersebut.

"Mulai hari ini penjualan Metro Exodus tidak akan dilanjutkan lagi di Steam, berdasarkan keputusan publisher untuk membuat game ini eksklusif hadir di layanan distribusi digital lain," tulis pihak Deep Silver.

"Pihak developer dan publisher memastikan bahwa seluruh penjualan yang telah dilakukan lewat Steam akan tetap mendapatkan akses serta dukungan serta update DLC lewat layanan Steam".

"Kami pikir keputusan untuk menghapus game ini dari layanan Steam akan tidak adil bagi pemilik akun Steam terutama setelah masa penjualan pre-order yang snagat panjang. Kami memohin maaf kepada seluruh pengguna layanan Steam yang mengharapkan game ini dirilis pada 15 Februari nanti," tutup kalimat pengumuman.

Tidak ada alasan pasti pihak Deep Silver memilih memasarkan game mereka lewat Epic Store Games. Kemungkinan besar adalah sistem bagi hasil keuntungan penjualan yang lebih besar bagi developer game apabila memasarkan lewat Epic Games Store.

Saat peluncuran awal Epic Games Store yang ramai disebut sebagai pesaing Steam memang dijelaskan bahwa Epic Games Store hanya akan mengambil 12 persen dari setiap transaksi penjualan game dan 88 persen diberikan kepada developer. Lebih besar dari yang ditawarkan oleh Steam.

Tidak tunggu lama CEO Deep Silver, Klemens Kundratitz memastikan bahwa alasan tersebut yang membuat perusahaannya berubah pikiran. Kebijakan dari Epic Games Store dinilai Kundratitz sebagai game changer.

"Publisher bisa lebih berinvestasi ke pengembangan konten atau memberikan penawaran lebih hemat kepada gamer. Bekerja sama dengan Epic kami dapat berinvestasi lebih banyak ke depannya untuk pengembangan franchise Metro,' tutur Kundratitz.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.