Kepopuleran Fortnite Rentan Jadi Modus Penipuan

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 30 Oct 2018 15:10 WIB
gamesfortnite
Kepopuleran Fortnite Rentan Jadi Modus Penipuan
Ilustrasi penipuan bermodus game Fortnite.

Jakarta: Semakin populer sebuah game artinya sebuah prestasi namun tanpa disadari semakin banyak pihak tidak bertanggung jawab yang dengan mudahnya membuat beragam bentuk penipuan sehingga penggemar game tersebut terjebak.

Dikutip dar Wired, game Fortnite yang sangat terkenal khususnya di kawasan Amerika Serikat rupanya menjadi salah satu game yang sering dieksploitasi sebagai modus penipuan, bahkan jumlahnya modus penipuannya mencapai ribuan.

Data ini diperoleh dari firma keamanan siber ZeroFox. Ada modus penipuan terkait game Fortnite, yang tidak hanya hadir dalam bentuk aplikasi palsu. Game tersebut dibuat oleh Epic Games tanpa masuk layanan Google Play Store.

Firma ZeroFox menemukan setidaknya ada 4.770 domain atau situs palsu yang berujung pada modus penipuan berkedok game Fortnite dan 1.390 video di YouTube yang berisi tautan penipuan berkedok iklan dan juga malware belum lagi ditambah tautan penipuan di media sosial.

Dijelaskan bahwa penipuan terkait Fortnite berkaitan dengan mata uang yang digunakan di dalam game atau in-game currency bernama V-bucks yang digunakan untuk membeli aksesoris dan skin atau kosmetik karakter di dalam game setelah menukarkan uang asli ke bentuk V-bucks.

Iklan berkedok penipuan tersebut akan berusaha menampilkan bahwa mereka bisa memberikan V-Bucks secara cuma-cuma atau dengan menukarkan sesuatu kepada situs tersebut misalnya alamat email atau paling sering dengan hanya mengklik sebuah iklan.

Tentu saja modus penipuan semacam ini biasanya berusaha mengumpulan data pribadi sang korban, mulai dari nomor kontak, nomor identitas penduduk, hingga nomor kartu kredit.

Biasanya para penipu akan membuat tampilan situs dengan sangat bagus, sehingga sulit dikenali sebagai situs palsu dilengkapi dengan komentar gamer yang juga palsu. Ini bisa sangat meyakinkan korban.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.