Indie Games Accelerator 2018

Apa Saja yang Studio Game Dapatkan di Google IGA 2018?

Mohammad Mamduh    •    Kamis, 29 Nov 2018 11:47 WIB
googlegames
Apa Saja yang Studio Game Dapatkan di Google IGA 2018?
Director, Business Development SEA and India Google Play Kunal Soni.

Singapura: Google telah selesai menggelar Indie Games Accelerator 2018. Acara yang pertama kali digelar untuk Asia Tenggara ini mengajak para developer game untuk mengembangkan identitas mereka lebih jauh dan membawa karyanya ke tingkat berikutnya.

Google sendiri menyeleksi mereka secara ketat, untuk melihat potensi dan kualitas yang dimiliki developer game tersebut.

“Sebelum ini, kita sudah punya beberapa ajang untuk developer game indie,” kata Director, Business Development SEA and India Google Play Kunal Soni.

Akhir tahun lalu, Google menggelar Google Play Awards, memberikan penghargaan kepada 10 game terbaik versi Play Store berdasarkan wilayahnya. Untuk Indie Games Accelerator, ia mengatakan ada tiga pilar utama yang diusung.

Pilar Discovery sebagai tugas pertama tim Google dalam mencari bakat-bakat dari studio game yang ada di Asia Tenggara. Cara seleksinya adalah dengan memainkan game yang telah diajukan, kemudian mereka akan melihat potensi dan dan kualitasnya.

Untuk masuk seleksi, game tersebut juga harus memenuhi beberapa syarat. Salah satunya adalah sudah mendapatkan tiga ulasan di Google Play Store.

Mentorship menjadi pilar kedua yang sangat penting. Developer game mendapatkan berbagai sesi pelatihan yang tidak hanya fokus pada pengembangan game. Mereka juga mendapatkan bimbingan untuk menyusun konsep bisnis.

Selain itu, para peserta Indie Games Accelerator juga diajak untuk berpikir sebagai perusahaan, sehingga tercipta rencana jangka panjang.

Tidak selalu dari Google, pembimbing juga berasal dari berbagai developer indie yang sudah lebih dulu sukses. Ini menjadi kesempatan mereka mendengarkan langsung pengalaman yang telah dirasakan pendahulu mereka.

Salah satu pembimbing yang Google libatkan adalah Rami Ismail dari Vlambeer.  Para pembimbing juga berbagi kesalahan yang telah ada, sehingga nantinya para peserta tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Pilar ketiga adalah Discovery. Ini merupakan insentif dari Google kepada para peserta untuk membawa studio mereka ke tingkat berikutnya.

Bentuk insentif bisa macam-macam, seperti akses dengan nilai tertentu ke Google Cloud Platform. Setelah lulus, Google akan membantu mereka membangun jaringan agar studio game nantinya bisa berjalan sendiri.

Berbagai pelatihan dan diskusi ini diharapkan bisa mengubah cara pandang developer game yang tadinya terlalu fokus pada mencari pendapatan. Kualitas game menjadi yang utama agar konsumen tertarik untuk memainkannya.

Beberapa peserta mengaku bahwa mereka banyak mendapatkan masukan berharga setelah mengikuti Google Indie Games Accelerator. “Setelah ini, kita semangat ingin membuat sekuel dari Epic Conquest,” kata Gaco Games, peserta asal Indonesia yang ikut Indie Games Accelerator.

Google memang sadar bahwa potensi industri game terus tumbuh. Mengutip data dari Newzoo, Asia Tenggara punya populasi sekitar 626 juta jiwa, dengan jumlah gamer mencapai 187 juta orang.

Nilai pasar game online di Asia Tenggara sendiri bisa mencapai USD10 miliar pada tahun 2025. Nilai yang menggiurkan ini seharusnya juga bisa dirasakan manfaatnya oleh developer game indie.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.