Pemerintah Australia Denda Valve Rp31 Miliar, Kenapa?

Riandanu Madi Utomo    •    Sabtu, 23 Dec 2017 16:29 WIB
industri game
Pemerintah Australia Denda Valve Rp31 Miliar, Kenapa?
Pemerintah Australia menang gugatan dengan Valve

Jakarta: Pemerintah Australia melalui komisi perlindungan konsumennya (ACCC) dinyatakan menang dalam gugatannya kepada Valve.

Dalam kasus yang dilayangkan tahun 2014 tersebut, pemerintah Australia menggutat Valve karena layanan gaming Steam dianggap melanggar hukum perlindungan konsumen di Australia.

Menurut PC GAMER, pelanggaran tersebut terdapat di sistem Steam Refund yang memungkinkan pengguna Steam mendapatkan uangnya kembali jika game yang dimainkan tidak sesuai dengan harapannya.

"Pengadilan menemukan Valve sebagai perusahaan yang menjalankan bisnisnya di Australia, dengan demikian mereka harus mengikuti hukum yang berlaku di Australia," ujar Chairman ACCC, Rod Sims.

"Pengadilan juga menemukan adanya representasi yang mengakibatkan kesalahpahaman bagi konsumen di sistem Steam Refund yang dihadirkan oleh Valve. Hal tersebut terdapat di bagian syarat dan ketentuan tertulis yang bisa menimbulkan kesalahpahaman dan merugikan konsumen Australia."

ACCC juga mengatakan pemenangan kasus ini sangat penting bagi hukum konsumen Australia ke depannya.

Dengan demikian, tidak ada perusahaan asing yang sembarangan menentukan aturannya sendiri dan tidak mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam hal perlindungan konsumen.

ACCC berharap Valve mau mengganti kebijakan Steam Rufund-nya sehingga bisa disesuaikan dengan hukum perlindungna konsumen di Australia.

Steam Refund merupakan kebijakan yang diterapkan Valve dan memungkinkan pengguna Steam untuk mendapatkan uangnya kembali namun dengan syarat khusus.

Batas waktu pembelian adalah 14 jam dan pemain hanya dapat memainkan game tersebut maksimal dua jam. Jika melebihi batas yang ditentukan maka game tidak bisa di-refund.

Karena ditetapkan bersalah, Valve kemungkinan harus membayar denda sebesar AUD3 juta atau sekitar Rp31 miliar ke pemerintah Australia.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.