Review Game

Full Metal Panic! Who Dares Wins, Jauh dari Ekspektasi

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 27 Aug 2018 15:17 WIB
gamesreview game indonesiabandai namco
Full Metal Panic! Who Dares Wins, Jauh dari Ekspektasi
Robot Arm Slave di Full Metal Panic!

Jakarta: Beberapa waktu lalu Bandai Namco merilis game berjudul Full Metal Panic! Who Dares Wins, yang diadaptasi dari seri manga Full Metal Panic! karya Shoji Gatoh tahun 2000.

Full Metal Panic! Who Dares Wins bukan game pertama yang dirilis oleh Bandai Namco dan menyajikan pertarungan robot atau mecha dengan konsep RPG. Bisa ditebak bahwa mereka yang tidak familier atau mengikuti manga Full Metal Panic dipastikan akan kebingungan.

Untuk game Full Metal Panic! Who Dares Wins sendiri mengadopsi manga seri Invisible Victory. Seri tersebut langsung menceritakan usaha tokoh protagonis utama Sousuke Sagara yang personil pasukan militer anti-teror Mithril melindungi gadis bernama Kaname Chidori yang diketahui merupakan Whisperer, sosok yang mampu menguasai teknologi canggih bernama Black Technology.



Hal ini membuat Chidori mendapatkan ancaman dari beragam kelompok teroris. Sagara bertugas menyamar sebagai anak sekolah Jindai High School untuk mendampingi sekaligus melindungi Chidori.

Namun, dalam game ini jalan cerita yang disajikan tidak menampilkan versi manga Full Metal Panic! Fumoffo yang menceritakan kehidupan Sagara dan Chidori di sekolah.



Dalam Full Metal Panic! Who Dares Wins, seluruh jalan cerita dihadirkan dengan gaya visual novel yang efeknya sangat sederhana. Berdasarkan penulusaran Medcom.id, sebetulnya plot cerita yang disajikan di game ini sangat singkat dan seadanya.

Meskipun mengusung gameplay RPG mulai dari menaikkan skill karakter protagonis atau operator robot AS (Arm Slave) termasuk kemampuan sang robot tapi pemain tidak akan menemukan pengalaman grinding seperti game bergaya RPG.

Seluruh pertarungan robot AS hanya akan berlangsung sesuai jalan misi yang dibentuk seperti chapter manga. Robot AS ditampilkan dalam ukuran mini yang cukup bagus tampilan grafisnya meskipun sangat sederhana. Gameplay pertarungan mengadopsi gaya turn-based strategy.



Sebelum melakukan serangan, Anda bisa memilih item atau skill serta jenis senjata yang berbeda-beda tergantung jenis robot AS yang digunakan dengan efek serangan yang juga berbeda.

Apabila tiba giliran musuh yang melakukan serangan maka pemain bisa menentukan terlebih dahulu apakah akan berusaha menghindari serangan tergantung kemampuan agility, bertahan dengan menerima serangan, atau melakukan serangan balik.



Satu hal yang cukup mengganggu adalah gameplay turn-based yang disajikan terasa sangat lama. Sebab setiap robot melakukan serangan akan muncul adegan animasi yang sebetulnya bisa dilewatkan. Apabila Anda melakukannya maka tidak ada informasi mengenai jumlah serangan yang dilakukan atau Anda terima.

Apabila pertarungan selesai, artinya satu chapter cerita telah selesai. Anda akan masuk ke antarmuka yang berisi tampilan operator robot AS dan dan robot AS seluruh tokoh protagonis. Antarmukanya menurut kami sangat sederhana dan kurang menarik.

Di bagian ini kami menemukan kekurangan dari gameplay Full Metal Panic! Who Dares Wins, yakni seluruh skill point dan uang yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan operator AS dan robot AS ditujukan untuk semua karakter protagonis.

Medcom.id memilih untuk menghabiskan seluruh poin dan uang tersebut untuk karakter dan robot AS milik Sagara sebagai karakter utama, pertimbangan kami karena karakter tersebut akan menjadi fokus permainan.



Ternyata, ada satu chapter kami hanya bisa memainkan karakter protagonis selain Sagara yang selama ini skill maupun kemampuan robotnya tidak kami tingkatkan. Alhasil kami gagal untuk mengalahkan musuh yang kemampuan robotnya lebih tinggi.


Kesimpulan
Full Metal Panic! Who Dares Wins tampak kurang berhasil mengemas kepopuleran anime dan manga dari Full Metal Panic! dan dipastikan bahwa mereka yang sama sekali tidak mengikuti karya-karya dari Full Metal Panic! akan merasa jalan ceritanya kurang menarik.

Medcom.id cukup beruntung bisa menelusuri sedikit jalan cerita Full Metal Panic!, tapi tetap saja hal tersebut tidak didapatkan dengan lengkap dan menarik di game ini. Jalan cerita di game ini hanya ditujukan sebagai penyambung antar misi.

Misi yang diberikan juga berdasarkan chapter dari Full Metal Panic!, pemain tidak disajikan pengalaman RPG melainkan turn-based seadanya. Sayangnya mode turn-based ini terasa sangat lama dan panjang, tidak seperti game turn-based lain yang banyak dijumpai di game Bandai Namco.

Untuk tampilan grafis gameplay menurut Medcom.id sudah cukup bagus. Meskipun sangat sederhana, antarmuka dari game ini sangat biasa tidak mengesankan desain futuristik atau robotik yang menjadi salah satu daya tarik Full Metal Panic!.

Sistem skill point dan upgrade robot AS juga mengecewakan, lantaran setiap poin yang didapatkan tidak untuk masing-masing operator robot dan robot AS padahal di jalan cerita tidak seluruh operator dan robot tampil dalam satu pertarungan.

Platform: PlayStation 4
Developer: B.B. Studio
Publisher: Bandai Namco
Tanggal Rilis: 31 Mei 2018
Genre: Simulation RPG
 
 
6.8
Full Metal Panic! Who Dares Wins
Plus
  • Tampilan cukup bagus
  • Gameplay turn-based cukup seru
Minus
  • Jalan cerita seadanya
  • Adegan turn-based terlalu panjang
  • Pertarungan yang hanya sesuai jalan cerita
  • Antarmuka kurang menarik
  • Sistem level dan upgrade menyulitkan



(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.