Belgia Gelar Penyelidikan Terhadap EA

Cahyandaru Kuncorojati    •    Rabu, 12 Sep 2018 11:00 WIB
gameselectronic arts
Belgia Gelar Penyelidikan Terhadap EA
Kantor EA. (Paul Brinkmann)

Jakarta: Buntut dari sikap EA (Eletronic Arts) yang enggan menghapus Loot Box untuk game mereka di Belgia akhirnya dirasakan. Pemerintah setempat kini melakukan investigasi kriminal kepada EA, dikutip dari Eurogamer.

Hal ini sebagai langkah terbaru pemerintah Belgia yang menyatakan tegas di bulan April lalu bahwa fitur loot box termasuk dalam perjudian, dan memerintahkan penerbit yang memiliki fitur tersebut di dalam game buatannya untuk dihapus.

Sebetulnya bukan cuma EA, ada juga Blizzard, Valve dan 2K Games namun ketiga publisher barusan tunduk dan menghapuskan fitur loot boxes sementara EA enggan melakukannya di game Star Wars Battlefront II dan FIFA 18.

Alasannya seperti yang dilontarkan oleh EA sejak akhir 2017 saat isu ini mengemuka di Belgia, EA beranggapan bahwa loot box bukan kegiatan perjudian, karena gamer mendapatkan konten atas pembelian atau transaksi yang mereka lakukan.

Loot box adalah konten berbayar yang gamer bisa dapatkan dengan cara melakukan transaksi. Sayangnya, konten yang akan didapatkan bersifat acak, sehingga sebetulnya tidak berbeda jauh dengan Anda membeli tiket undian, dan membuat penggunanya ketagihan.

Di bulan Juli, gamer asal Inggris memanfaatkan GDPR (General Data Protection Regulation), kebijakan perlindungan data yang berlaku di Inggris untuk mengakses data pribadi pengguna.

Dia mengajukannya kepada EA untuk mengetahui uang sudah dihabiskan untuk membeli konten sejenis loot box di game FIFA 17 dan FIFA 18 selama dua tahun. Ternyata dia sudah menghabiskan uang sebanyak Rp144 juta.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Menteri Kehakiman Belgia Koen Geens berkata, jika loot box dalam game-game yang disebutkan di atas tidak dihilangkan, penerbit mereka bisa terancam 5 tahun penjara dan denda hingga EUR800 ribu (Rp13,6 miliar). Jika ada anak-anak yang terlibat, maka hukuman itu bisa digandakan.

Belanda termasuk yang juga menanggap loot boxes sebaga konten perjudian, sementara Inggris dan Selandia baru tidak mempermasalahkannya. Amerika Serikat sendiri tengah mempelajari loot box agar tidak diakses anak di bawah umur.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.