Di Masa Depan, Game Bisa Diresepkan sebagai Obat

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 26 Jul 2017 10:33 WIB
games
Di Masa Depan, Game Bisa Diresepkan sebagai Obat
Ilustrasi. (CBS News)

Metrotvnews.com: Beberapa tahun belakangan, game untuk melatih otak merupakan topik kontroversial, terutama setelah sekelompok peneliti membuat surat terbuka pada 2014. Dalam suratnya, mereka mengatakan, hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan melatih otak Anda di satu bidang akan meningkatkan fungsi kognitif di bidang lain. 

Tidak lama setelah itu, sekelompok peneliti lain membantah pernyataan tersebut, mengklaim bahwa telah ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa pelatihan di bidang kognitif tertentu dapat meningkatkan fungsi kognitif, seperti yang disebutkan oleh The Verge

Inilah yang membuat apa yang dilakukan perusahaan bernama Akili menjadi menarik. Akili adalah perusahaan asal Boston yang menggunakan teknologi dari laboratorium Neuroscape dari University of California, San Fransico untuk membuat game mobile yang disebut Project: EVO.

Tujuan dari game ini adalah untuk membantu anak-anak yang mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Nantinya, game tersebut diharapkan akan bisa disarankan untuk digunakan layaknya resep. 

Salah satu cara yang Akili lakukan untuk memvalidasi game buatannya adalah dengan melewati proses dan pengujian yang dilakukan oleh Badan Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) seperti jika mereka membuat perangkat medis atau obat.

Saat ini, game buatan Akili tengah ada dalam tahap III pengujian klinis, yang berarti, game ini belum tentu akan diakui sebagai obat. Namun, jika Akili sukses, maka game ini akan menjadi game pertama yang bisa diresepkan di AS. Dan hal ini akan menciptakan kategori baru, yaitu obat digital. 

Sebelum mendirikan Akili dan menjadi Chief Creative Officer, Matt Ormernick merupakan seorang Executive Art Director di Lucas Art. Sementara tim Neuroscape, yang dipimpin oleh ahli syaraf, Adam Gazzaley, telah mengembangkan dan menguji teknologi game untuk mengatasi kelainan otak seperti ADHD, autisme, depresi, Alzheimer dan lain sebagainya selama 12 tahun. 

Baik Gazzaley dan Omernick sepenuhnya sadar akan kontroversi terkait proyek yang mereka kembangkan. Namun, mereka berkata, apa yang mereka lakukan berbeda. Misalnya, Gazzaley berkata, Neuroscape berusaha untuk tidak sekadar membuat latihan otak seperti game tapi membuat game yang memang menarik bagi pemainnya. 

"Kami mengintegrasikan tantangan kognitif dengan gerakan fisik," ujarnya. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.