Project Atlas, Layanan Game Streaming dari EA untuk Developer

Cahyandaru Kuncorojati    •    Rabu, 31 Oct 2018 10:48 WIB
teknologigameselectronic arts
Project Atlas, Layanan Game Streaming dari EA untuk Developer
Kantor Electronic Arts. (WCCF Tech)

Jakarta: Setelah Google memperkenalkan Project Stream, Xbox dengan Project xCloud, kini giliran Electronic Arts (EA) memperkenalkan Project Atlas untuk meramaikan tren layanan game streaming.

Meskipun belum beroperasi secara resmi, CTO Electronic Arts Ken Moss memang tidak sabar untuk membawa EA terjun ke tren game streaming dengan menyebutkan Project Atlas dalam blog pribadinya di Medium. Dirinya seakan menegaskan layanan ini berfokus bagi pengembang game.

Dalam tulisannya, Moss menyebutkan bahwa Project Atlas saat ini sudah menggandeng lebih dari 1.000 pengembang game untuk menggunakan layanan ini, karena Project Atlas menyediakan platform dan ekosistem yang dibutuhkan mereka.

Ketimbang hanya menyediakan layanan game streaming di server cloud milik EA, perusahaan tersebut memberikan dukungan bagi developer game untuk memanfaatkan layanan cloud tersebut sebagai pusat pengembangan game dari nol sampai siap dimainkan.

Tidak hanya itu, server cloud EA Project Atlas juga sudah ditanamkan game engine Frostbite milik EA yang sudah digunakan pada banyak franchise. Jadi developer game bisa menggunakan game engine milik EA lewat Project Atlas.

"Saat ini developer menghabiskan waktu mereka untuk menyatukan layanan pengembangan yang berbeda-beda menjadi. satu. Banyak waktu dan sumber daya yang terbuang untuk menciptakan aspek dalam sebuah game. Oleh sebab itu kami hadir dengan menyediakan solusi yang dibutuhkan," tulis Moss.

Dia menyebutkan bahwa developer akan diberikan kemampuan AI atau kecerdasan buatan di dalam game engine Frosbite di Project Atlas yang mengandalkan layanan berbasis cloud sehingga dengan mudah skalabilitas kebutuhannya bisa ditingkatkan kapan saja.

Menurut Moss, layanan game streaming mereka tidak hanya membuat mudah gamer memainkan game tanpa mempusingkan spesifikasi perangkat yang digunakan, tapi pengembang game juga tidak perlu lagi berpikir menyesuaikan game buatannya dengan tren spesifikasi perangkat yang ramai di pasar saat ini.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.