Indie Games Accelerator 2018

Ini Game Indonesia yang Ikut Indie Games Accelerator 2018

Mohammad Mamduh    •    Kamis, 29 Nov 2018 13:55 WIB
googlegames
Ini Game Indonesia yang Ikut Indie Games Accelerator 2018
Tiga pengembang game asal Indonesia yang jadi peserta Indie Games Accelerator 2018

Singapura: Dalam ajang Indie Games Accelerator 2018, Google membawa tiga studio game sebagai perwakilan dari Indonesia.

Mereka adalah Niji Games, Gaco Games, dan Everidea. Ketiganya mendapatkan pelatihan pengembangan game dan model bisnis untuk jangka panjang. Google menyebutkan, ajang untuk studio game mereka yang pertama di Asia Tenggara ini memiliki sekitar 480 sesi.

Niji Games membawa satu karya terbaru mereka berjudul Jones: Single is Happiness. Game yang mengusung konsep visual novel ini sudah biasa diunduh via Google Play Store dengan harga Rp9.000.

Salah satu pendiri Niji Games, Nikko Soetjoadi, mengatakan pada awalnya game ini akan dirilis sebelum mengikuti ajang Google Indie Games Accelerator 2018.

“Setelah mendapat banyak masukan pada acara ini, kita putuskan untuk menunda dan memberikan banyak perubahan. Jones: Single is Happiness baru kita rilis pada 27 November.”

Dampak Indie Games Accelerator tampaknya cukup terasa. Begitu meluncur, Jones: Single is Happiness berada di posisi 40 besar game berbayar terbaik versi Google Play Indonesia.

Sampai hari ini, Kamis 29 Desember 2018, Jones: Single is Happiness terlihat sudah berada di posisi enam untuk kategori yang sama. Sebagian besar pengunduh berasal dari Indonesia.

Sementara itu, Gaco Games membawa karyanya, Epic Conquest, yang menekankan unsur RPG dan hack and slash.

Mengusung grafis 3D, game ini berukuran 122MB dan bisa Anda lihat pada halaman ini. Salah satu hal yang menarik adalah, setelah mengikuti Indie Games Accelerator, pihak Gaco mengakui bersemangat untuk membuat sekuelnya.

Sementara Everidea adalah studio game berikutnya dari Indonesia yang menjadi peserta. Game mereka saat ini masih dalam tahap pengembangan. Medcom.id sempat menjajal singkat game tersebut, dan tampak unsur cerita dengan animasi 2D yang menarik. 

Dengan total tim 13 orang, mereka memfokuskan game dengan kolaborasi bersama pihak ketiga. Sebelumnya mereka telah bekerja sama dengan grup musik Tulus dalam merilis Tulus: Labirin.

Ketiga developer ini tampak setuju dengan apa yang dikatakan Director, Business Development SEA and India Google Play Kunal Soni. Kunal menyebut bahwa kualitas menjadi hal utama dalam menarik gamer.

Ketiga game asal Indonesia ini menekankan aspek cerita yang menarik, dan Medcom.id sudah sempat menjajal ketiganya. Bisa dibilang game ini sama bagusnya dengan buatan studio game luar negeri.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.