IeSPA: Pemain Esport Bukan Sembarang Orang

Riandanu Madi Utomo    •    Kamis, 03 Aug 2017 17:48 WIB
esport
IeSPA: Pemain Esport Bukan Sembarang Orang
Presiden Asosiasi Olahraga Elektronik Indonesia (IeSPA), Eddy Lim (MTVN/DANU)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebagian besar masyarakat awam memang menganggap bermain game sebagai kegiatan untuk bersenang-senang.

Namun, munculnya esport atau olahraga elektronik mengubah itu semua. Game ternyata bisa dijadikan sebagai profesi bahkan memiliki jenjang karir sebagai profesional. Meski demikian, menjadi gamer profesional bukan sekadar seberapa sering seseorang bermain game.

"Bukan, gamer profesional bukan hanya bermain game seharian lalu menjadi jago dan juara," ujar Presiden Asosiasi Olahraga Elektronik Indonesia (IeSPA), Eddy Lim, kepada Metrotvnews.com. "Sama dengan atlet profesional, gamer profesional juga butuh menu latihan dan persiapan khusus. Tanpa itu, mereka enggak bakal jadi juara."

Eddy juga mengatakan gamer profesional yang berpotensi sukses biasanya tampil sebagai orang yang pintar dalam bidang matematika dan rajin berolahraga. Menurutnya, kemampuan matematika yang tinggi membuat seseorang mampu mengkalkulasi risiko dalam permainan dengan cepat sehingga bisa mengambil keputusan secara tepat serta cepat.

Sementara orang yang suka berolahraga dipastikan memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Hal tersebut akan berpengaruh pada konsentrasi ketika bertanding. Konsentrasi membutuhkan ketahanan fisik sehingga olahraga merupakan faktir yang sangat penting.

Sama seperti atlet olahraga, bakat sebagai pemain esport bisa dilatih sejak dini. Eddy mengatakan, dengan melatih kemampuan matematika agar bisa berfikir logis secara cepat serta melatih ketahanan tubuh sejak tingkat SMP, sesorang akan bisa sangat berpotensi menjadi pemain esport pada masa usia perkuliahannya.

Masalahnya, saat ini sangat sulit untuk mencari talenta dan orang yang berbakat tersebut. Untuk itulah IeSPA membentuk klub yang berbasis di berbagai kafe internet di seluruh Indonesia. Klub tersebut berfungsi sebagai wadah bagi pemain esport amatir dan rencananya akan ada banyak pertandingan yang melibatkan klub tersebut.

Ke depannya, diharapkan akan tampil bintang-bintang esport dari berbagai klub tersebut sehingga bisa direkrut oleh tim profesional lokal maupun internasional. Dengan demikian ekosistem esport Indonesia akan berkembang.

"Sekarang ada sekitar 28 klub esport di seluruh Indonesia. Klub tersebut merupakan bagian dari sebuah kafe internet yang telah memiliki standarisasi khusus. Tentunya kami berharap ada talenta baru lahir dari klub tersebut," jelas Eddy.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.