80% Pelaku Penembakan Sekolah Bukan Gamer

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 12 Mar 2018 10:23 WIB
games
80% Pelaku Penembakan Sekolah Bukan Gamer
Ilustrasi dari game bergenre frist person shooter.

Jakarta: Menanggapai maraknya kasus penembakan di sekolah yang dianggap berasal dari video game, beberapa waktu lalu Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan beberapa penerbit game terkemuka di AS.

Hasil pertemuan tersebut memberikan anggapan negatif pada video game. Dikutip dari WCCFTech, salah satu psikolog yang juga profesor asal Villanova University bernama Patrick Markey mengunggah hasil penelitian yangs udah dirilis pada tahun 2014.

Markey mengaku sudah melakukan penelitian terhadap tren video game selama 33 tahun dan menemukan bahwa tidak ada bukti kuat bahwa pelaku penambakan di sekolah merupakan gamer aktif.

"Justru penjualan bulanan video game berpengaruh terhadap menurunnya tingkat serangan kekerasan, dan tidak memiliki kaitan terhadap kasus pembunuhan. Pencarian terhadap panduan video game dengan unsur kekerasan juga memiliki relasi dengan berkuranganya angka kekerasan serta kasus pembunuhan," ungkap Markey.
 
Dalam cuitan Twitter Markey, dia mengunggah foto dari buku hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa video game lebih banyak berkontribusi terhadap menurunnya tingkat kejahatan kekerasan.

Karakteristik pelaku penembakan sekolah yang dijabarkan oleh Markey, dijelaskan bahwa pelaku biasanya berjenis kelamin laki-laki, remaja, pelajar, korban perundungan, pernah mencoba melakukan bunuh diri, dan depresi.



Karakteristik yang disebutkan tadi mewakili lebih dari 60 persen hasil penelitian. Lantas ketertarikan pada video game hanya memilikinilai 20 persen. Markey mengakui bahwa hasil riset ini dirilis pada 2014. Namun, sudah sejak lama diketahui bahwa video game bukan faktor pendorong pelaku penembakan sekolah.



Untuk perbandingan tingkat kejahatan dengan jumah penjualan game pada beberapa negara, Jepang menjadi negara dengan tingkat kasus kejahatan kekerasan yang rendah seiring besarnya angka penjualan game di negara tersebut.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.