Tiongkok Berbenah Soal Regulasi Game

Cahyandaru Kuncorojati    •    Minggu, 23 Dec 2018 14:01 WIB
gamestiongkoktencent
Tiongkok Berbenah Soal Regulasi Game
Ilustrasi. (TIA)

Jakarta: Pemerintah Tiongkok akhirnya menyelesaikan perubahan regulasi terkait kode etik yang mengatur sebuah game untuk beredar dan dimainkan Tiongkok setelah memakan waktu sembilan bulan.

Perubahan regulasi tersebut membuat developer game lokal serta game dari luar yang ingin dirilis di Tiongkok tertunda. Padahal, Tiongkok adalah pasar besar bagi industri game di dunia. Ini juga membuat perusahaan seperti Tencent ikut merugi.

South China Morning Post menyebut kabar kali ini akan menjadi angin segar bagi industri game Tiongkok yang ikut hiatus dan ambruk seperti yang dialami oleh saham Tencent. Tetap saja hal ini meninggalkan pekerjaan rumah bagi pemerintah Tiongkok, karena masih ada banyak game yang menunggu lolos uji sensor.

Dijelaskan bahwa regulasi dan kode etik yang dibuat pemerintah terhadap game mengharuskan bahwa game harus sesuai dengan pandangan dari Partai Komunis Tiongkok. Melanggar berarti harus mengikhlaskan game tersebut dilarang beredar.

"Jajaran pertama game yang harus diulas sudah selesai. Kami akan segera merilis lisensinya," ungkap perwakilan departemen propaganda dari Partai Komunis Tiongkok, Feng Shixin.

"Sekarang ada banyak sekali daftar game yang harus diulas dan diuji sensor terlebih dahulu, jadi kami harap bisa bersabar," imbuhnya.

Meskipun demikian, disebutkan bahwa pembuatan regulasi baru oleh pemerintah Tiongkok bukan terkait dengan ideologi partai berkuasa, melainkan tentang adiksi game online, konten berbahaya bagi anak dan semakin banyaknya kasus rabun jauh pada gamer di Tiongkok.

"Minat dan permintaan terhadap game di Tiongkok tidak berkurang selama pemerintah melakukan hiatus untuk membuat regulasi baru namun gamer di Tiongkok akan sangat senang apabila ada game baru yang juga sudah bisa diluncurkan di negaranya," tutur pengaman industri game firma Niko Partner, Lisa Hanson.

Dia menjelaskan bahwa tahap awal akan ditujukan khusus untuk game buatan developer lokal dan beberapa minggu kemudian baru ditujukan untuk game dari luar Tiongkok. Hal tersebut akan cukup mengganggu jadwal rilis yang sejak awal sudah direncanakan oleh developer game.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.