Review Game

The Banner Saga 3, Unsur RPG Kental untuk Penggemar Berat

Mohammad Mamduh    •    Senin, 01 Oct 2018 12:16 WIB
gamesreview game indonesia
The Banner Saga 3, Unsur RPG Kental untuk Penggemar Berat
The Banner Saga 3

Jakarta: Game RPG memang belum ada matinya. Terlepas dari kepopuleran game battle royale, masih banyak developer game yang mencoba menghadirkan sebuah permainan dengan menekankan unsur cerita dan penokohan yang mendalam.

Salah satu hasilnya adalah The Banner Saga 3. Jika Anda belum pernah mendengarnya, ini adalah game buatan Stoic Studio yang telah menjadi trilogi, sejak seri pertamanya hadir pada tahun 2014.

Namanya mungkin jarang didengar orang karena pihak pengembangnya memang baru punya satu karya. Namun, saya melihat banyak aspek yang membuatnya layak menjadi favorit gamer, terutama yang suka dengan mode singleplayer.

The Banner Saga 3 melanjutkan kisah dari seri sebelumnya, yang menggambarkan keruntuhan dunia fantasi dengan referensi mitologi Skandinavia yang unik. Kehancuran dunia digambarkan dengan kegelapan yang menyelimuti seluruh wilayah yang ditinggali manusia, varl (ras mirip manusia tetapi berukuran jauh lebih besar dan punya tanduk), serta ras lainnya.

Di dalam kegelapan yang menyelimuti ini, ada ras bernama dredge, yang menjadi antagonis sepanjang seri The Banner Saga. Pemain harus mengikuti kisah yang akan menghadirkan penyelesaian dengan berbagai sudut pandang dari beberapa karakter.



Penokohan yang cukup banyak pada The Banner Saga 3, terlihat dari jalan cerita dari beberapa karakter dengan lokasi yang berbeda. Mereka punya misi dan tujuan masing-masing, walaupun target utamanya adalah mencegah kegelapan tersebut menyelimuti bumi seluruhnya.

Rook dan Alette, dua tokoh utama seri ini kembali hadir, tetapi tidak bersamaan. Pada awal permainan, pemian diminta memlih salah satunya, atau bisa juga melanjutkan jalan cerita pemain dari seri kedua via data yang tersimpan. Artinya, Anda bisa memanfaatkan data save game dari The Banner Saga 2.

Secara umum, The Banner Saga 3 menawarkan cerita dengan percakapan dalam jumlah yang cukup banyak. Ini memang menjadi ciri khas game RPG, dan menjadi kelebihan selama cerita yang ditawarkan punya kualitas. Pemain tidak diberikan kebebasan yang cukup banyak, seperti membaca novel yang ceritanya bergerak terus menerus.

Dalam beberapa situasi, Anda bisa mengubah jalan cerita dengan pilihan jawaban yang menghadirkan berbagai konsekuensi. Jawaban pemain juga bisa memberikan poin bernama Renown, yang dipakai untuk meningkatkan level karakter.

The Banner Saga 3

Walaupun banyak percakapan, saya melihat pihak pengembang menawarkan aksi yang lebih banyak ketimbang seri sebelumnya. The Banner Saga 3 pada umumnya menawarkan gaya turn-based strategy saat muncul pertarungan.

Pemain dan lawan diminta menyerang secara bergantian, dan masih memanfaatkan dua parameter utama: armor dan strength. Armor sebagai pelundung Anda untuk menyerap serangan lawan, dan strength sebagai health point dan daya serang karakter. Semakin kecil strength membuat daya serang karakter semakin kecil. Karakter langsung gugur saat strength mencapai angka nol.

Meskipun tidak banyak, ada beberapa perbedaan pada The Banner Saga 3 dengan seri lainnya. Salah satu yang paling terlihat adalah progres cerita yang terhambat karena kalah dalam pertarung. Tidak semuanya, dalam beberapa pertarungan, saat pemain kalah, jalan cerita akan berlanjut dengan kondisi yang sesuai dengan situasi akhir pertarungan.

Karakter pemain tetap mendapatkan renown dan artifak, tetapi semua anggota party tidak bisa terjun dalam beberapa pertarungan berikutnya. Ini membuat pemain harus memastikan bahwa semua karakter mereka punya level tinggi, berimbas pada konsumsi renown yang lebih banyak.

The Banner Saga 3

Perbedaan kedua adalah konsep musuh yang datang secara bergelombang lebih banyak. Dalam The Banner Saga 3, beberapa pertarungan akan didatangi musuh dalam jumlah yang sangat banyak, sementara pemain harus bisa menghadirkan strategi terbaik agar semua anggota party kuat menahan serangan.

Tidak harus selalu menyerang, pemain juga harus mempertimbangkan kekuatan dengan beristirahat, atau menggunakan anggota party yang punya kemampuan khusus yang bisa memberikan daya rusak kepada lebih dari satu musuh sekaligus.

Melihat aspek grafis, The Banner Saga 3 tidak menawarkan banyak perubahan dari seri sebelumnya. Memang ada peningkatan dari segi detil objek, tetapi elemen warna dan konsep dua dimensi bercampur cell shaded tetap dipertahankan. Ini memang merupakan karakteristik The Banner Saga sejak pertama kali meluncur.

Elemen warna gelap jadi lebih dominan karena kondisi cerita yang menggambarkan dunia semakin diselimuti kegelapan. Animasi pada pertarungan juga tetap sama, yang menampilkan kotak-kotak tempat karakter berpijak, dan gerakan karakter saat menyerang atau menerima serangan.

Kesimpulan
Sebagai seri yang punya kisah bersambung, The Banner Saga 3 adalah game berkualitas berkat unsur cerita dan penokohan yang tepat. Anda yang sudah memainkan dua seri sebelumnya, memang harus membeli The Banner Saga 3. Di sisi lain, tidak banyak peningkatan yang ditawarkan pada seri ketiga ini, sehingga bisa jadi pemain akan merasa bosan.

Bukan karena grafis yang memukau, tetapi lebih karena suka dengan mode singleplayer berbalut kisah yang menarik dan belum pernah ada pada game lainnya. Harganya juga tidak terlalu mahal, membuat game ini cukup layak mengisi Library Steam Anda.

Platform: PlayStation 4, Nintendo Switch, Xbox One, Microsoft Windows, Macintosh
Developer: Stoic Studio
Publisher: Versus Evil
Tanggal Rilis: 26 Juli 2018
Genre: Tactical-RPG
 
 
8
The Banner Saga 3
Plus
  • Cerita tetap seru
  • Anggota party banyak
Minus
  • Tak banyak peningkatan dari seri sebelumnya



(MMI)

Samsung Galaxy A9, Si Unik Berkamera Empat
Review Smartphone

Samsung Galaxy A9, Si Unik Berkamera Empat

21 hours Ago

Samsung mengakhiri tahun 2018 dengan ponsel inovatif dalam hal kamera dengan dukungan empat kam…

BERITA LAINNYA
Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.