Tiongkok tak Ramah, Tencent Fokus ke Asia Tenggara

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 20 Nov 2018 14:52 WIB
gamestencent
Tiongkok tak Ramah, Tencent Fokus ke Asia Tenggara
Tencent.

Jakarta: Dampak dari penghentian dan restrukturisasi sementara perizinan untuk merilis game oleh pemerintah Tiongkok semakin membuat bisnis game Tencent yang menjadi penghasilan terbesarnya ikut berdampak negatif.

Dikutip dari Financial Times, kini Tencent telah menandatangani kerja sama dengan publisher game asal Singapura, Sea atau yang dikenal sebagai Garena untuk divisi bisnis game. Ini membuat bisnis Tencent tetap bertumbuh lewat pasar Asia Tenggara.

Asia Tenggara yang dikenal sebagai pasar smartphone sekaligus game mobile yang cukup pesat dan besar memang menjadi kunci aman bagi Tencent. Kerja sama ini membuat Sea Group mendapatkan izin untuk merilis game-game buatan Tencent atau memposisikan diri sebagai publisher.

Tencent menandatangani perjanjian lima tahun dari Right of First Refusal dengan Sea. Artinya Sea memiliki hak merilis dan menjual game buatan Tencent di Asia Tenggara. Bagi Tencent ini menjadi pintu alternatif untuk tetap bisa merilis dan mendulang keuntungan dari bisnis game.

Cara ini membuat eksistensi bisnis Tencent tetap mengakar kuat di Asia Tenggara. Menariknya Sea atau Garena sendiri pada sahamnya terdapat 34 persen yang dimiliki oleh Tencent, dan merilis beberapa game asal Tiongkok dari Tencent yaitu Arena of Valor dan League of Legends.

Di awal tahun ini pemerintah Tiongkok menghentikan semetara proses perizinan perilisan game baru. Alhasil langkah tersebut membuat kebuntuan bagi bisnis Tencent dan dikabarkan membuat kerugian dengan berdampak menurunnya valuasi Tencdent hingga USD 160 (Rp2,3 triliun) miliar sejak Januari.

Pemerintah Tiongkok dikabarkan tengah membuat regulasi baru untuk mengatasi tingkat adiksi kalangan muda Tiongkok terhadap game dan juga mengatur konten yang boleh ditampilkan dalam game.

Beberapa waktu lalu Tencent harus menarik game Monster Hunter World yang lisensinya didapatkan dari Bandai Namco untuk bisa beredar di Tiongkok. Game tersebut ditarik lantaran memperlihatkan bangkai monster fiktif yang memang menjadi target di dalam game tersebut.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.