Symantec: Cloud Sebenarnya Rentan Serangan Siber

Riandanu Madi Utomo    •    Selasa, 28 Nov 2017 14:53 WIB
cyber security
Symantec: Cloud Sebenarnya Rentan Serangan Siber
Cloud tidak menjamin segalanya menjadi aman (gambar: istimewa)

Jakarta: Komputasi awan atau cloud computing merupakan teknologi yang sedang sangat berkembang belakangan ini.

Teknologi tersebut memang sudah terbukti mampu membuat berbagai proses dan kebutuhan IT menjadi sebuah layanan yang mudah diakses dan digunakan oleh siapapun, terutama untuk perusahaan skala kecil dan menengah. Namun apakah cloud benar-benar aman?

Menurut Chief Technology Officer Symantec untuk wilayah Asia yaitu Matthias Yeo, teknologi cloud tidak benar-benar aman. Bahkan, belakangan berbagai serangan siber secara spesifik menargetkan layanan cloud.

"Ketika serangan cloud masih berada di tahap awal, pada tahun 2016 terjadi gangguan layanan cloud yang meluas pertama kali, hasil dari serangan denial of service (DoS). Ini menjadi peringatan bahwa layanan cloud sangat rentan terhadap serangan berbahaya," jelas Yeo. 

"Penggunaan aplikasi cloud yang luas di berbagai perusahaan, ditambah dengan perilaku pengguna yang berisiko yang bahkan mungkin tidak disadari perusahaan, memperluas cakupan serangan berbasis cloud."

Yeo juga khawatir dengan cloud yang semakin berpengaruh banyak dan berkembang di perusahaan. Pengaruh yang terus bertumbuh tersebut memang wajar, mengingat peningkatan kinerja dan produktivitas yang dihadirkan oleh aplikasi-aplikasi cloud, seperti Office 365, Google dan Dropbox sangat bagus.



Meski demikian, penggunaan cloud yang semakin umum baik oleh perusahaan maupun konsumen akan menjadi magnet dan daya tarik bagi para penyerang siber. Para pelaku bisnis perlu memastikan bahwa mereka aman dari kekuatan baru kejahatan siber.

The Asia Cloud Computing Association’s 2016 Cloud Readiness Index, yang mengukur kesiapan cloud ekonomi atau cloud readiness of economies, menempatkan Indonesia di posisi 11 dari 14 pasar Asia Pasifik yang disurvei.

Pertumbuhan optimistis ekonomi digital Indonesia akan membutuhkan dukungan kuat dari infrastruktur TIK yang tangguh.

Berkembangnya bisnis biro perjalanan online, e-commerce dan media online di Indonesia yang melayani lebih dari 200 juta pengguna di tahun 2020 dan tahun-tahun berikutnya juga akan menjadi tantangan besar bagi para penyedia layanan cloud dan pebisnis. Alasannya, lalu lintas internet dan aplikasi yang berjalan untuk mendukung ekonomi digital juga akan sangat besar.

"Walaupun survei menunjukkan hasil seperti di atas, tantangan keamanan tetap akan ada. Kelompok penjahat siber oportunis dalam melancarkan aksi mereka, memanfaatkan kelemahan sistem operasi resmi, tool, dan layanan cloud untuk menyusup ke dalam jaringan," lanjut Yeo.

Agar dapat secara efektif mengatasi aksi tersebut, CISO (Chief Information Security Officer) di sebuah perusahaan memerlukan visibilitas dan kontrol yang tak tertandingi terhadap konten sensitif yang diunggah, disimpan, dan dibagikan oleh para pengguna melalui cloud. 

Alih-alih mengandalkan satu kali perbaikan dan patch reaktif guna melindungi informasi rahasia, CISO yang sukses mengatasi kerentanan yang dapat dieksploitasi dengan menerapkan solusi end-to-end yang proaktif.


(MMI)