ASUS Komitmen Kembali Berjaya di Indonesia

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 24 Apr 2018 22:44 WIB
asus
ASUS Komitmen Kembali Berjaya di Indonesia
ASUS membandingkan Zenfoone Max Pro M1 dengan kompetitor seriusnya di Indonesia yakni Xiaomi.

Jakarta: Dalam acara perkenalan varian Zenfone Max Pro M1 kemarin di Ritz Carlton-Pacific Place, Jakarta, ASUS tampak disambut oleh puja dan puji dari para peserta dalam acara tersebut. Alasannya, mereka merilis perangkat yang setara dengan kompetitornya tapi dengan strategi yang lebih jeli sekaligus harga yang lebih murah.

Dalam sebuah sesi wawancara ekslusif, Medcom.id berkesempatan untuk melontarkan pertanyaan yang mengenai keriuhan acara tadi, apakah ini menjadi momen kembali berjayanya ASUS di pasar smartphone Indonesia?

Seperti yang diketahui bahwa bisnis ASUS di pasar smartphone Indonesia sangat menjanjikan dengan banyaknya daftar perangkat yang mereka rilis. Namun, masa kejayaan ASUS di Indonesia hanya berlangsung sampai keluarga ASUS ZenFone 2. Keriuhan menyambut smartphone ASUS tidak lagi terdengar di seri selanjutnya.

"Saat kami merilis ZenFone generasi pertama dan Zenfone 2, kami akui bahwa responsnya sangat bagus. Pada ZenFone 3 kami mengubah target audience dan segmen produk kami lebih tinggi yang darinya middle-entry, harus kami akui saat itu market share ASUS memang menurun," ungkap ASUS South East Asia Regional Director Benjamin Yeh.

Meskipun begitu Benjamin mengklaim bahwa kondisi tersebut bukan berarti ASUS benar benar lesu. Menurutnya ASUS memang kehilangan market share di target audiens dan segmen perangkat menengah ke bawah tapi justru pertumbuhan masih tercatat di segmen menengah ke atas sejak ZenFone 3 dan ZenFone 4.

"Ada alasan mengapa pada ZenFone 5 kami mengusung "back to five", karena kami ingin kembali ke masa kejayaan ZenFone 5. Jadi kami ingin kembali membangun target audiens dan segmen pasar untuk perangkat dengan harga Rp3 juta," jelas Benjamin.

Dia menegaskan bahwa Zenfone Max Pro M1 memang dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, tapi dengan spesifikasi mainstream. Artinya, ZenFone bukan akan bersaing dengan kompetitornya yang kuat bermain dengan di segmen entry level, tapi dengan menciptakan posisinya sendiri yang disesuaikan dengan segmen konsumen di Indonesia.

"Ke depannya strategi ASUS adalah dengan melihat lebih jeli lagi target audience yang kami sasar dan segmen untuk perangkat kami. Misalnya, yang kami lakukan pada Zenfone Max Pro M1 dengan memadukan kebutuhan segmen pengemar mobile game di Indonesia," ucap Benjamin.

Seperti yang dikutip dari data IDC Indonesia terkait lima vendor yang menguasai pasar smartphone di Indonesia, posisi ASUS merosot dari posisi tiga di tahun 2016 menjadi keempat di tahun 2017. Padahal sebelum 2016, ASUS bisa terus membayangi Samsung yang sangat kuat bertengger di posisi pertama.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.