Hoaks Insiden Teror Ramai di Medsos, Pengguna Harus Waspada dan Aktif Melapor

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 14 May 2018 13:11 WIB
cyber securityTeror Bom di Surabaya
Hoaks Insiden Teror Ramai di Medsos, Pengguna Harus Waspada dan Aktif Melapor
Ilustrasi.

Jakarta: Tujuan pelaku terorisme adalah menebar rasa takut, tidak hanya lewat aksi bom, tapi juga salah satunya adalah dengan menyebarkan hoaks lewat media sosial.

Salah satunya yang ramai adalah soal ledakan bom di Gereja Santa Anna Duren Sawit, Jakarta Timur yang berdsarkan penelusuran Medcom.id dan Kapolres Jakarta Timur Kombes Tony Surya memastikan bahwa kabar tersebut hoaks.

Sebelumnya, beredar pesan berantai lewat WhatsApp yang melaporkan bahwa pada pukul 08.55 WIB tadi pagi gereja, tersebut terjadi ledakan bom yang dilakukan oleh perempuan bercadar.

Pengamat teknologi Onno W. Pubo meminta pengguna media sosial selalu berhati-hati terhadap pesan berantai. Terutama pesan yang ramai dalam insiden teror bom karena sangat mungkin bahwa pesan tersebut bisa merupakan hoax.



"Intinya, semua informasi harus jelas sumbernya siapa dan sumber tersebut harus bisa dipercaya, lengkap dengan alamat kontak untuk menghubungi sumber tersebut. Apabila diperlukan, cari sumber informasi yang lebih jelas sehingga bisa mengetahui langkah yang harus dilakukan apabila hal itu benar terjadi," beber pria yang akrab disapa Onno.

Terkait tanggapannya tentang langkah pemerintah memerangi hoaks yang kerap beredar pada setiap insiden teror yang terjadi di Indonesia, Onno justru meminta setiap pengguna media sosial untuk tidak terlalu bergantung pemerintah dalam menanggapi pesan atau konten yang disebar.

"Jangan apa-apa tergantung pemerintah. Pakai saja mekanisme yang ada di platform internet untuk membela diri," ungkap Onno terkait hoax maupun konten berunsur terorisme yang tersebar di media sosial.

Dia mengakui bahwa teknologi memudahkan penggunanya berbagi informasi termasuk konten seperti video terkait terorisme.

"Walau sebenarnya ada beberapa video yang sebaiknya tidak dibagikan dan dilarang oleh penyedia platform, tapi itu tidak mengehentikan orang-orang mengunggah konten terkait kekerasan dan terorisme. Di semua media sosial ada mekanisme flagging untuk melaporkan konten yang tidak pantas ke penyedia platform," tutur Onno.

Kemarin, beredar banyak sekali video yangk kurang pantas yang menampilkan insiden pengeboman gereja-gereja di Surabaya pada YouTube. Beruntung platform tersebut sudah menyediakan fitur khusus melaporkan video terkait.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.