Alumni ITB Wakili Indonesia dalam AirAsia Hackathon Airvolution 2017

K. Yudha Wirakusuma    •    Minggu, 19 Mar 2017 12:05 WIB
teknologiairasia
Alumni ITB Wakili Indonesia dalam AirAsia Hackathon Airvolution 2017
Tim Indonesia dalam Airvolution 2017.

Metrotvnews.com, Kuala Lumpur: Sayup-sayup terdengar riuh suasana di Markas AirAsia, Kuala Lumpur, Malaysia. Semangat inovasi, kreativitas tumpah di ruang tengah kantor yang didominasi warna merah.

Optimisme, itu pesan yang ditangkap Metrotvnews.com saat berada di tengah-tengah 20 tim yang berkompetisi. Mereka berlomba mencari jalan keluar permasalahan di penerbangan udara. Kompetisi hackathon ini bertajuk Airvolution 2017.
 
Sebelum dimulainya kompetisi, CEO AirAsia Group, Tony Fernandes memberikan sambutan. Hangat dan bersahabat,  terangkum dalam pesan yang disampaikan. Gelak tawa dan tepuk tangan mengisi keceriaan rangkaian kompetisi hackathon bertajuk Airvolution 2017.

"Kami melihat Airvolution sebagai langkah pertama evolusi AirAsia menuju sebuah bisnis yang mendukung komunitas teknologi. Tidak hanya memberikan mereka platform untuk mengembangkan ide baru, tapi juga mengekspresikan mimpi mereka melalui pendanaan dan bimbingan," kata Toni dalam sambutannya di acara AirAsia Airvolution 2017, Sabtu (18/32017).



Tim yang berpartisipasi diberikan tantangan yang berhubungan dengan perjalanan. Kemudian mereka memberikan solusi dengan menciptakan baru dengan produk teknologi.

Tiga tantangan yang diberikan panitia, yaitu mengurangi waktu menunggu para penumpang di bandara (mulai dari check-in hingga boarding), mengidentifikasi perilaku penggemar AirAsia berdasarkan jejak mereka di dunia digital sosial untuk meningkatkan customer experience, dan memberikan penawaran penerbangan terbaik dan biaya tur termurah, tak lupa dengan perjalanan terbaik.

Panitia menempatkan 20 tim yang terdiri dari lima orang di Markas Airasia selama 18,5 jam. Kemudian tim mempresentasikan gagasan dan produknya kepada panitia. 

Pemenang kompetisi ini akan mendapatkan hadiah mulai dari uang tunai 25 ribu ringgit Malaysia atau sekitar Rp75 juta, hingga lima tiket penerbangan pergi-pulang ke berbagai tujuan AirAsia.

Satu dari 20 tim yang berkompetisi, adalah Indonesia. Lima orang alumni Kampus Institut Tekhnologi Bandung (ITB) ini 'bertarung' untuk menjadi yang terbaik. Mereka mengusung tema yang sederhana, namun mampu mengatasi pemasalah di penerbangan udara.

"Mudah-mudahan kita bisa menciptakan jalan pintas permasalahan penerbangan udara. Karena sebenarnya banyak hal yang bisa dipecahkan dengan tekhnologi," kata Johannes dari tim hackathon Indonesia, Neutron Star Collision.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.