Temuan Bug Baru Percepat Penutupan Google+

Lufthi Anggraeni    •    Selasa, 11 Dec 2018 10:38 WIB
google
Temuan Bug Baru Percepat Penutupan Google+
Akibat temuan bug baru, Google memutuskan untuk mempercepat waktu penutupan Google+.

Jakarta: Google mengumumkan sejumlah pengguna jejaring sosialnya, Google+, kembali terkena dampak negatif dari software yang diperkenalkannya pada bulan November lalu. Update ini disebut mengandung bug yang mempengaruhi kinerja API Google+.

Akibat penemuan bug baru ini, Google memutuskan untuk menutup layanan Google+ pada bulan April mendatang, dan bukan pada bulan Agustus 2019, seperti keputusan yang diumumkan sebelumnya.

Setelah melakukan investigasi pada permasalahan, Google menyebut bahwa bug mempengaruhi sekitar 52,5 juta pengguna yang terhubung dengan API Google+. API yang terinfeksi ini menawarkan aplikasi akses penuh ke informasi profil yang disimpan pengguna sebagai profil di Google+.

Informasi tersebut termasuk nama, alamat email, pekerjaan, usia, dan bahkan informasi yang tidak ditampilkan kepada publik. Namun, bug ini tidak memberikan pengembang akses ke informasi lebih sensitif seperti data finansial, nomor kartu tanda penduduk, password, atau tipe data lain yang berpeluang digunakan untuk penipuan atau pencurian identitas.

Google juga mengonfirmasi bahwa tidak ada pihak ketiga yang berkompromi dengan sistemnya, dan tidak tersedia bukti bahwa pengembang pemilik akses selama enam hari telah memanfaatkan bug untuk hal negatif.

Sementara itu menyoal pengguna enterprise, Google mengumumkan dalam proses memberitahukan informasi terkait permasalahan ini kepada mereka. Sebelumnya, Google+ diperkirakan membocorkan hampir sebanyak 500 ribu data profil pengguna jejaring sosialnya.

Pada bulan Oktober lalu, Google mengumumkan akan menutup versi konsumen dari Google+ pada bulan Agustus 2019 mendatang. Alasan di balik keputusan Google ini adalah temuan bug software terkait dengan API yang digunakan untuk Google+

Bug ini memungkinkan lebih dari 400 aplikasi memiliki potensi untuk mengakses nama, tanggal ulang tahun, alamat email, foto profil dan informasi lainnya terkait dengan pengguna.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.