Layanan Streaming Bikin Industri Musik Kembali Bergairah

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 21 Sep 2016 16:05 WIB
teknologi
Layanan Streaming Bikin Industri Musik Kembali Bergairah
Streaming musik mulai membuat keadaan industri musik membaik.

Metrotvnews.com: Selama hampir dua dekade, industri musik terus mengalami penurunan karena maraknya pembajakan. Sekarang, berkat pertumbuhan layanan streaming berbayar seperti Spotify dan Apple Music, industri musik mulai pulih.

Industri musik di Amerika Serikat mengalami pertumbuhan selama 2 tahun berturut-turut -- ini merupakan pertama kalinya sejak tahun 1998-1999, ketika penjualan CD mencapai puncaknya.

Pengeluaran untuk musik tumbuh 8,1 persen menjadi USD3.4 miliar (Rp44,7 triliun) di semester pertama 2016, menurut laporan tengah tahun dari Recording Industri Association of America (RIAA) yang berhasil didapatkan Bloomberg.

Hal ini tercapai berkat layanan musik streaming yang memberikan pengguna akses ke jutaan lagu setelah mereka membayar biaya bulanan atau secara gratis jika pengguna rela mendengarkan iklan. Pendapatan streaming di AS tumbuh 57 persen menjadi USD1.6 miliar (Rp21 triliun) di semester awal 2016 dan memberikan kontribusi ke hampir 50 persen dari total penjualan di industri musik.



"Tampaknya, pasar musik kembali tumbuh setelah krisis dan penyusutan selama bertahun-tahun," kata Zach Katz, Head of US Operations di BMG Rights Management GmbH, sebuah label rekaman dan penerbit musik. "Hal ini merupakan langkah ke arah yang benar."

Fakta bahwa industri musik mulai membaik terlihat dari pendapatan pemain industri musik, baik kecil maupun besar. Tiga label rekaman besar -- Universal Music Group, Warner Music Group dan Sony Music Entertainment -- mengumumkan bahwa mereka berhasil mendapatkan untung.

Sementara BMG, penerbit dan label rekaman yang lebih kecil, melaporkan peningkatan penjualan sebesar 4,6 persen di semester awal tahun ini.

Meskipun begitu, para pelaku industri musik masih enggan untuk merayakan kabar baik ini. Selama 6 tahun, pendapatan per tahun masih berada di sekitar USD7 miliar (Rp92 triliun), yang hanya mencapai setengah pendapatan di tahun 1999, menurut data RIAA. Sekarang ini, label rekaman juga terus membuat kontrak baru dengan YouTube dan Spotify, dua perusahaan penyedia musik gratis terbesar di dunia.

Layanan streaming on-demand yang didukung iklan tumbuh 24 persen menjadi USD195 juta (Rp2,6 triliun) di semester awal tahun 2016. Meskipun begitu, layanan itu masih belum cukup untuk meyakinkan masyarakat untuk mulai menggunakan layanan berbayar. Layanan yang didukung iklan ini tidak mendapatkan penghasilan yang cukup besar, kata Chairman RIAA, Cary Sherman dalam sebuah blog post.

"Banyak layanan yang mendapatkan miliaran dollar untuk diri mereka sendiri tapi hanya membayar jumlah kecil pada para artis dan label," tulis Sherman. "Sementara situs bajakan terus beroperasi, seolah kebal dari hukum."

Teknologi baru berusaha mendorong masyarakat untuk membayar musik secara online. Co-Founder Apple, Steve Jobs meyakinkan para label rekaman bahwa iTunes akan membantu mereka menghadapi pembajakan. Namun, pada akhirnya, keberadaan iTunes justru mematikan album musik karena banyak orang lebih memilih membeli lagu single.

Di sisi lain, dalam industri musik streaming, Apple bukanlah satu-satunya pemain. Spotify juga memiliki layanan berbayar dan terus tumbuh meski Apple telah menawarkan Apple Music. Menariknya, sebagian besar orang yang menggunakan Apple Music bukanlah pelanggan lama Spotify, menurut para eksekutif label rekaman.

Selain itu, kemunculan layanan musik streaming baru juga diperkirakan dapat meningkatkan penjualan di industri musik. Misalnya Amazon, situs e-commerce, dikabarkan melakukan investasi untuk menyediakan layanan musik streaming.

Pandora, layanan radio online terbesar di dunia, juga dikabarkan akan menyediakan layanan musik on-demand di akhir tahun. Mereka berencana untuk membuat 10 persen dari 78 juta pengguna gratis mereka menjadi pengguna berbaya di tahun 2020.


(MMI)

Video /