Review Smartphone

Samsung Galaxy A7, Tiga Kamera Belakang Khas Samsung

Mohammad Mamduh, Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 19 Nov 2018 18:18 WIB
samsungreview gadget
Samsung Galaxy A7, Tiga Kamera Belakang Khas Samsung
Samsung Galaxy A7 2018. (Medcom.id)

Jakarta: Menjelang akhir tahun, Samsung mengumumkan dua smartphone kelas menengah mereka untuk pasar Asia Tenggara. Galaxy A7 dan Galaxy A9 generasi terbaru mengusung konsep baru, baik untuk Samsung maupun kompetitornya. Sebelum peluncuran, mereka telah secara tegas menyatakan bakal menanamkan berbagai fitur dan teknologi baru pada ponsel kelas menengahnya.

Strategi ini diambil demi mencegah dominasi produsen smartphone asal Tiongkok yang terus ‘menghujani’ pasar dengan jajaran ponsel dengan spesifikasi dan harga yang lebih menarik. Samsung mencoba memberikan lebih dari itu lewat Galaxy A7 dan Galaxy A9. Unit yang kami jajal kali ini adalah Samsung Galaxy A7 (2018). Kami bisa mengatakan bahwa ponsel ini memang tampil menarik.

 

Desain

Samsung Galaxy A7 (2018) tampak sama saja dengan generasi sebelumnya. Ini karena melihat tampilannya dari depan. Samsung Galaxy A merupakan rumpun kelas menengah yang menawarkan bodi kelas premium seperti Galaxy S.

Dengan begitu, Samsung bisa meraih konsumen dengan kekuatan finansial yang kurang layak untuk membeli Galaxy S atau Galaxy Note. Dengan gaya premium, Anda bisa melihat tampilan elegan dari sisi depan Samsung Galaxy A7 (2018). Layar Super AMOLED 6 inci membuatnya tampil mengkilap dan elegan, baik dalam keadaan tidak menyala.



Membicarakan tren bezel-less, rasio layar ke bodi Samsung Galaxy A7 (2018) mungkin terkesan kecil, sekitar 74,4 persen. Panel layar yang terpasang membuatnya sanggup menyediakan pengalaman rasio layar hingga 80 persen. Ini juga didukung posisi bingkai layar yang proporsional dari sisi atas dan bawah.

Desain ini memungkinkan Samsung memasang berbagai komponen esensial di sisi atas, seperti kamera dan speaker. Selain itu, Samsung sebagai salah satu produsen yang tidak mengikuti tren poni, jadi Anda tidak akan menemukannya pada Samsung Galaxy A7 (2018).



Begitu melihat bodi belakang, penggunanya mungkin akan merasa terkejut. Samsung Galaxy A7 (2018) menjadi ponsel pintar berikutnya yang memasang tiga kamera belakang. Namun, sebagai pemain besar, Samsung sadar bahwa ia tidak boleh memasang desain yang terkesan meniru produk kompetitor.

Tiga kamera terpasang pada sisi kiri atas secara vertikal, dan semuanya dibungkus dalam satu bingkai khusus. Bingkai ini terkesan kaku dan tidak terlalu menonjol, tapi itulah yang menjadi sisi elegan Samsung Galaxy A7 (2018). Mengapa? Karena tidak ada produk pesaingnya yang menanamkan desain bingkai kamera belakang serupa.

Bodi belakang Samsung Galaxy A7 (2018) secara keseluruhan menggunakan material kaca dengan pinggiran metal yang membuatnya tidak punya tampilan 2,5D. Material kaca akrilik ini terlihat punya finishing yang bagus, dan sidik jari Anda akan mudah membekas.

Di sisi lain, itu adalah hal lumrah untuk smartphone dengan bodi sejenis. Apa yang menarik adalah Anda tidak akan menemukan pemindai sidik jari pada bodi belakang ini. Samsung Galaxy A7 (2018) memberikan gaya yang berbeda, dan harus diakui cukup menarik.



Samsung Galaxy A7 (2018) menyediakan antarmuka yang tampil beda. Tombol power dan volume berada di pinggir kanan. Namun, tombol power tidak terlalu menonjol, bahkan ketinggiannya lebih rendah dengan bodi ponsel. Pada tombol inilah terpasang pemindai sidik jari, yang harus diakui cukup nyaman setelah dipakai beberapa waktu.

Sementara untuk pengisian dayanya masih menggunakan port micro USB. Memang tidak ada keharusan penggunaan port USB-C, mengingat Samsung punya teknologi sendiri yang belum tentu menuntut pengisian daya khusus, sehingga harus mengadopsi port yang mulai ramai digunakan itu. Samsung Galaxy A7 (2018) juga masih menyediakan jack audio 3,5mm di pinggir bawah, bersama port USB dan lubang speaker dengan gaya klasik.

 

Antarmuka

Samsung Galaxy A7 (2018) mengadopsi Android 8.1 Oreo, dengan antarmuka Experience UI 9.5. Apa yang membuatnya unik adalah tampilan aplikasi yang dibagi per halaman, ketimbang menampilkan dalam satu layar dan menggeser panel ke bawah.

Ada beberapa aplikasi bawaan yang cukup esensial, walaupun terkesan agak banyak. Aplikasi yang tersedia ini memang akan terpakai dalam kebutuhan harian. Sama seperti antarmuka lain, pengguna bisa mengganti tema agar tampilan Samsung Galaxy A7 (2018) lebih menarik.



Antarmuka Samsung Galaxy A7 (2018) juga menyediakan Samsung Health, yang befungsi sebagai pemantau kebugaran, begitu juga ketika terhubung dengan wearable lainnya yang terpasang di tangan pengguna.

Ia dapat memantau berapa banyak kalori yang sudah terbakar, dan kafein yang telah dikonsumsi. Sisanya adalah layanan Samsung lainnya, dan biasanya memberikan manfaat lebih kepada pengguna setia smartphone Samsung. Namun, ini juga tidak tertutup untuk pengguna baru.  

 

Kamera

Samsung memasang tiga kamera belakang untuk Galaxy A7, yaitu kamera utama dengan resolusi 24MP dan aperture f/1.7, kamera kedua bersolusi 5MP untuk mengukur kedalaman foto, dan sensor 8MP dengan aperture f/2.4 untuk mengambil foto wide-angle.

Kamera utama dari Galaxy A7 menghasilkan gambar yang tajam ketika Anda mengambil foto di siang hari. Meskipun begitu, jika Anda menggunakan lensa wide-angle untuk objek foto yang bergerak cepat, seperti motor atau mobil, objek tersebut terkadang menjadi terlihat mengabur. Kabar baiknya, kamera bisa menangkap detail foto dengan baik.





Kombinasi kamera utama dengan kamera 5MP memungkinkan Anda untuk mengambil foto dengan efek Bokeh. Jika sudah merasa bosan dengan foto Bokeh, Anda bisa bereksperimen dengan berbagai mode kamera yang ada pada Galaxy A7, seperti slow motion dan hyperlapse.



Galaxy A7 bahkan sudah dilengkapi dengan fitur Scene Optimizer. Sayangnya, saya tidak melihat perubahan yang signifikan ketika saya menggunakan fitur ini atau ketika saya menggunakan mode Auto.

Ketika saya mencoba untuk menggunakan Galaxy A7 untuk mengambil foto dengan efek Bokeh pada malam hari, kamera kesulitan untuk fokus pada objek yang saya inginkan. Dari tiga foto yang saya ambil, hanya satu foto yang terlihat cukup bagus.



Kamera ketiga pada Galaxy A7 berfungsi untuk mengambil gambar dengan wide-angle. Mode ini sangat berguna ketika ANda hendak mengambil foto lanskap atau foto dari banyak orang sekaligus. Sayangnya, karena lensa wide-angle menggunakan lensa dengan fokus fixed, itu berarti, Anda tidak bisa memilih kawasan yang menjadi fokus atau membuat latar belakang menjadi mengabur.

Anda bisa melihat pebandingan foto dengan wide-angle dan dengan kamera utama. 





Masalah lainnya, lensa 8MP ini hanya memiliki aperture f/2.4. Dengan begitu, ia kurang maksimal jika Anda menggunakannya untuk mengambil foto di malam hari.

Untuk masalah kamera depan, Galaxy A7 menghasilkan foto yang cukup baik. Ia juga sudah dilengkapi dengan stiker, memungkinkan Anda untuk memasang berbagai aksesori seperti kuping binatang, kacamata hitam, dan lain sebagainya. Stiker ini masih bisa tampil bahkan ketika Anda mengambil foto bersama dengan orang lain.





 

 

Performa


Jika membicarakan performa, ponsel Samsung mungkin tidak akan sekencang produk kompetitor. Ini karena target Samsung sendiri bukan kemampuan komponen yang dihitung secara angka, melain penglaman penggunaan secara keseluruhan. Seri apapun yang dipasarkan, Samsung selalu memastikan ponselnya bisa memenuhi berbagai kebutuhan pengguna, baik itu untuk bekerja, memutar video, atau bermain game.

Tidak harus menghasilkan performa tertinggi, komponen yang terpasang setidaknya bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut tanpa masalah. Samsung Galaxy A7 (2018) juga demikian. Smartphone ini menyematkan prosesor Exynos 7885, dengan delapan inti berkecepatan 2,2GHz.



Prosesor ini berduet dengan RAM 4GB dan memori internal 64GB, sudah cukup besar untuk menyimpan foto dan beberapa game. Jika melihat performa secara angka pada grafik di bawah, Samsung Galaxy A7 (2018) masih kalah dengan pesaingnya di harga yang terpaut tipis. Samsung Galaxy A7 (2018) masih kalah dari Vivo V11 Pro. Namun, aspek lain membuat ponsel tersebut unggul jauh darinya.

Performa boleh kalah, tapi soal baterai, Samsung Galaxy A7 (2018) menang dengan selisih cukup jauh. Ponsel ini dapat bertahan selama 12 jam, ketika pengguna memakainya secara intensif, baik untuk bermain game atau menonton video. Padahal, dayanya hanya 3.300 mAh. Dua aktivitas ini memang termasuk yang paling berat dan paling banyak mengonsumsi daya baterai.



Jika dilihat dengan produk kompetitor, prosesor Exynos memang lebih irit, terlepas dari performa yang tidak lebih baik. Bukan berarti Exynos tidak kencang, hanya saja pemakaian sehari-hari tidak akan meminta prosesor melaju kencang.

Untuk performa ketika bermain game, harus saya akui Samsung Galaxy A7 (2018) tidak bisa memenuhi harapan. Game PUBG Mobile bisa berjalan dengan lancar, tetapi jangan harap dapat memainkannya dengan pengaturan tertinggi.

Setidaknya, ponsel ini bisa memenuhi kebutuhan gaming standar. Anda juga tidak akan merasakan panas yang mengganggu ketika bermain game pada posisi horizontal.

 

Kesimpulan

Tiga kamera belakang pada Galaxy A7 memang memiliki fungsi masing-masing. Dua kamera pada ponsel ini memungkinkan Anda untuk mengambil foto dengan efek Bokeh. Sementara lensa ketiga memungkinkan Anda untuk mengambil foto dengan wide-angle. Hasil foto dari ponsel ini juga cukup tajam. Sayangnya, hasil foto di malam hari masih tidak jauh berbeda dengan hasil foto kebanyakan smartphone kelas menengah.

 
  Galaxy A7 (2018)
Prosesor Exynos 7885
RAM 6GB/8GB
OS 6,0 inci 1080 x 2220 piksel
GPU Mali-G71
Memori Internal 128GB
Kamera 24MP + 8MP + 5MP (belakang), 24MP (depan)
Baterai 3.300 mAh
Layar 6,0 inci 1080 x 2220 piksel 
Harga Rp4.499.000
 
 
8.3
Samsung Galaxy A7 (2018)
Plus
  • Kamera multifungsi
  • Baterai awet
  • Desain keren
Minus
  • Hasil gambar pada malam hari yang biasa saja
  • Performa kurang untuk main game



(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.