Langgar Paten, Apple Harus Bayar Rp6,7 Triliun

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 27 Jul 2017 12:10 WIB
apple
Langgar Paten, Apple Harus Bayar Rp6,7 Triliun
Apple harus membayar denda karena dianggap telah melanggar paten.

Metrotvnews.com: Seorang hakim di Amerika Serikat memutuskan bahwa Apple harus membayar USD506 juta (Rp6,7 triliun) pada University of Wisconsin-Madison karena melanggar paten universitas tersebut. Angka ini lebih dari dua kali lipat lebih banyak dari jumlah yang ditentukan oleh juri pada pengadilan sebelumnya, seperti yang disebutkan oleh Reuters. 

Keputusan ini merupakan kelanjutan dari pertarungan hukum terkait pelanggaran paten yang telah berlangsung selama 2 tahun. Ada kemungkinan, pertarungan ini masih akan terus berlanjut. Menurut The Verge, pada Oktober 2015, seorang juri menentukan bahwa Apple telah melanggar paten ketika menciptakan prosesor mobile yang digunakan dalam produk buatannya seperti iPhone, iPad Mini dan iPad Air.

Prosesor A7, A8 dan A8X yang digunakan pada iPhone 5s. 6 dan 6 Plus ternyata memanfaatkan teknologi paten milik University of Wisconsin-Madison. Apple lalu diminta untuk membayar denda sebesar USD234 juta (Rp3,1 triliun). Perusahaan pembuat iPhone itu membantah tuduhan pelanggaran paten dan mengklaim bahwa mereka memiliki paten sendiri terkait teknologi yang dipermasalahkan. 

Hakim Distrik, William Conley mengatakan, alasan denda pada Apple dinaikkan adalah karena mereka terus melakukan pelanggaran paten meski pengadilan 2015 telah menentukan bahwa mereka harus membayar denda. Apple ternyata terus menggunakan prosesor ini, yang berarti mereka terus melanggar paten hingga paten tersebut berakhir pada 2016. 

Pada awalnya, hakim ingin meminta Apple untuk membayar denda maksimal, yaitu USD862 juta (Rp11,5 triliun). Namun, denda ini dikurangi karena Apple tidak melakukan pelanggaran paten secara sengaja. Apple berencana untuk mengajukan banding dan menolak untuk memberikan komentar lebih lanjut terkait hal ini. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.