Microsoft: Indonesia Masih Masuk Daftar Negara Paling Terekspos Ancaman Siber

Riandanu Madi Utomo    •    Kamis, 07 Sep 2017 17:50 WIB
cyber security
Microsoft: Indonesia Masih Masuk Daftar Negara Paling Terekspos Ancaman Siber
Ancaman siber di Indonesia masih sangat tinggi

Metrotvnews.com: Microsoft Asia Pasifik hari ini merilis temuan regional dari "Laporan Security Intelligence (SIR), Volume 22," yang menemukan bahwa negara berkembang seperti Banglades, Kamboja, Indonesia, Myanmar dan Vietnam termasuk diantara lima besar negara di Asia Pasifik yang paling terekspos oleh program berbahaya.

Pada kuartal 2 tahun 2016, sebanyak 45,2 persen komputer di Indonesia terserang malware. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari angka rata-rata global pada kuartal yang sama yaitu sebesar 20,8 persen. 

Kategori perangkat lunak berbahaya yang paling sering ditemui di Indonesia pada kuartal 2 2016 adalah Trojan, dengan kontribusi 41,5 persen dalam serangan pada seluruh komputer, naik 37,8 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Worm menempati posisi kedua, dengan 24,5 persen serangan pada seluruh komputer, turun 26,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Dalam lingkup Asia Pasifik, laporan ini menemukan bahwa sekitar satu dari empat komputer di Bangladesh, Kamboja dan Indonesia yang menjalankan produk keamanan real-time Microsoft melaporkan adanya serangan malware antara Januari sampai Maret 2017. 

Jenis dan jumlah ancaman program berbahaya yang ditemukan di Indonesia

Bangladesh, Kamboja, Indonesia, Myanmar, Vietnam, Nepal dan Thailand masing-masing melaporkan adanya serangan malware dengan rata-rata tingkat serangan lebih dari 20 persen pada kuartal pertama 2017. Angka ini lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan rata-rata global sebesar 9 persen.

Di sisi lain, negara-negara di Asia Pasifik dengan level kematangan teknologi informasi yang lebih tinggi, yakni Selandia Baru dan Singapura, memiliki performa yang lebih baik dibandingkan rata-rata global.

Laporan semi-tahunan Microsoft Security Intelligence (SIR) sendiri memaparkan data dan sudut pandang mendalam terhadap lanskap ancaman global, secara spesifik kepada kerentanan perangkat lunak, eksploitasi, malware dan serangan berbasis web.

Dalam versi terbaru ini, laporan tersebut melacak endpoint serta ancaman data pada komputasi awan dan profil lebih dari 100 pasar individu. Laporan ini juga membagikan studi kasus dan solusi yang dapat membantu organisasi untuk dapat melindungi, mendeteksi dan merespon ancaman dengan lebih baik.


(MMI)