Perusahaan Media Sosial Harus Lebih Bertanggung Jawab Terkait Pengguna Anak

Lufthi Anggraeni    •    Kamis, 04 Jan 2018 17:33 WIB
teknologi
Perusahaan Media Sosial Harus Lebih Bertanggung Jawab Terkait Pengguna Anak
Anak pada masa transisi SMP ke SMA rentan terhadap risiko bertingkah laku berlebihan untuk mendapatkan simpati pengguna media sosial.

Jakarta: Perusahaan media sosial dinilai perlu lebih bertanggung jawab dalam membantu anak-anak melalui tantangan kehidupan online. Komisioner Anak untuk Inggris menyebut anak-anak berisiko bertingkah laku berlebihan, guna mendapatkan simpati pengguna media sosial.

Anne Longfield menyebut bahwa media sosial telah memaparkan anak-anak ke risiko signifikan secara emosional. Risiko tersebut dinilai berbahaya bagi anak yang berada pada fase transisi dari sekolah menengah pertama (SMP) ke sekolah menengah atas (SMA).

Longfield juga menilai anak yang memasuki usia tujuh tahun punya tingkat pendidikan kurang kompeten untuk dapat menghadapi tuntutan mendadak dari media sosial. Hal tersebut menyebabkan komisioner meminta sekolah dan perusahaan media sosial lebih aktif dalam mempersiapkan anak-anak secara emosional.

Laporan berjudul Life in Likes yang dirilis komisioner pada Kamis lalu menyatakan, anak-anak lebih cepat mengkhawatirkan citra mereka di ranah maya saat memasuki usia remaja. Penelitian tersebut dilakukan pada delapan grup beranggotakan 32 anak dengan rentang usia delapan hingga 12 tahun.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa akun media sosial terpopuler di kalangan kelompok anak tersebut adalah Snapchat, Instagram, Musical.ly dan WhatsApp. Namun, penelitian ini juga mengungkapkan sisi positif dan sisi negatif dari penggunaan media sosial tersebut.

Anak dengan rentang usia delapan hingga 10 tahun dilaporkan penelitian tersebut, memanfaatkan media sosial untuk dapat memainkan game, mengasah kreativitas, dan menemukan hal baru terkait dunia. Fokus tersebut kemudian bergeser saat anak-anak memasuki tingkat pendidikan lebih tinggi.

Pergerakan ini terpusat di sekitar tekanan sosial yang secara konstan terkait dan terhubung dengan anak-anak, dan diterjemahkan sebagai ekspektasi penting dari pertemanan mereka, dan dinilai menjadi permasalahan jika respon yang diperoleh tidak cukup.

Sejumlah anak pada tahun pendidikan ke tujuh menggambarkan penerimaan notifikasi dari berbagai media sosial, terutama dalam jumlah banyak, mengganggu merek, serta menyita waktu dan merepotkan untuk dikelola.

Sejumlah anak lainnya menekankan efek negatif penggunaan media sosial milik orang tua mereka, mengeluhkan terkait foto memalukan yang dibagikan di ranah maya tanpa izin mereka. Selain itu anak-anak ini juga mengkhawatirkan paparan informasi kurang pantas melalui akun orang tua mereka.

Pembatasan usia pengguna dari 13 tahun dan seterusnya yang diterapkan perusahaan media sosial dinilai komisioner belum cukup untuk menghentikan anak di bawah umur untuk menggunakan media sosial.

Komisioner juga meminta sekolah dan orang tua untuk mempersiapkan anak-anak terkait perubahan di ranah media sosial tersebut hingga tingkat pendidikan lebih muda yaitu sekolah dasar. Komisioner juga memperingatkan jika tindakan tersebut tidak dilakukan, satu generasi akan bertumbuh dengan tingkat laku berlebihan demi mendapatkan simpati pengguna media sosial.

Selain itu, Longfield juga meminta pihak terkait memperkuat literasi digital dan pendidikan pertahanan secara online untuk pelajar tahun ke enam dan ke tujuh, sehingga dapat memahami sisi emosional dari media sosial.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.