Fitur Pengenalan Wajah Bisa Hancurkan Privasi Pengguna, Kenapa?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 30 Aug 2017 13:06 WIB
appleiphonecyber security
Fitur Pengenalan Wajah Bisa Hancurkan Privasi Pengguna, Kenapa?
Ilustrasi. (VICKY LETA / MASHABLE)

Metrotvnews.com: Saat ini, vendor smartphone tengah berlomba-lomba menghadirkan fitur pengenalan wajah untuk membuka kunci smartphone. Sayangnya, tren ini tampaknya justru akan menimbulkan masalah, terutama terkait privasi pengguna.

Mashable berbicara dengan beberapa ahli yang merasa khawatir akan penggunaan teknologi pengenalan wajah. Mereka merasa, penggunaan teknologi itu tidak hanya akan menimbulkan masalah privasi, tapi juga justru akan membuat perangkat menjadi kurang aman.

Perusahaan seperti Apple, Google dan Qualcomm kini tengah mengembangkan biometrik baru untuk membuka ponsel atau melakukan pembelian. Jika sebelum ini mereka menggunakan sidik jari, sekarang, mereka ingin menggunakan teknologi pengenalan wajah. iPhone 8 dikabarkan sudah akan dilengkapi dengan fitur ini. Namun, para ahli memperkirakan, akan ada beberapa masalah yang muncul akibat penggunaan ini. 

Salah satu rumor yang beredar menyebutkan bahwa iPhone terbaru akan dilengkapi dengan fitur yang disebut Resting Unlock. Pada dasarnya, Anda tidak perlu menyentuh ponsel Anda untuk membuka kuncinya atau melakukan autentikasi pembelian.

Memang, fitur ini terdengar keren, tapi, untuk membuat fitur itu bekerja, maka fitur pengenalan wajah harus terus aktif. Dan hal ini membuat Senior Staff Attorney Electronick Frontier Foundation, Adam Schwartz khawatir. "Secara umum, produk yang terus aktif memunculkan kekhawatiran tersendiri," ujar Schwartz. Dia menjelaskan, fitur yang selalu aktif akan terus mengumpulkan data. Dan data tersebut bisa berpindah tangan ke pihak ketiga.

"Termasuk pencuri data, yang mungkin membobol perangkat atau tempat data disimpan atau karyawan internal perusahaan yang membuat perangkat, yang tergoda untuk menyalahgunakan konten pelanggan atau polisi," katanya. "Jadi, sebelum pengguna menggunakan teknologi yang selalu aktif, mereka harus mempertimbangkan apa efeknya pada privasi mereka. 

Jonathan Frankle, mahasiswa PhD tahun kedua di MIT Internet Policy Research Initiative memiliki pendapat yang sama. Menurutnya, jika kamera ponsel terus aktif, ini akan menimbulkan masalah privasi, terutama karena ponsel akan selalu dibawa oleh penggunanya. 

Penggunaan wajah sebagai kunci
Schwartz merasa, menggunakan wajah untuk membuka kunci ponsel akan menimbulkan banyak masalah. Salah satu alasannya karena sangat mudah untuk mengambil gambar dari seseorang dalam keramaian. Foto beresolusi tinggi bahkan bisa saja ditemukan di Instagram.

Tidak hanya itu, sebelum ini, fitur pengenalan wajah pada Galaxy S8 telah terbukti bisa ditipu menggunakan foto. Dan hal ini membuat para ahli keamanan khawatir akan penggunaan teknologi pengenalan wajah sebagai kunci ponsel. Terutama karena berbeda dengan password, Anda tidak bisa mengubah wajah Anda. 


Foto: AndroidPIT

"Begitu biometrik Anda ada di tangan pihak tidak bertanggung jawab, tidak ada yang bisa Anda lakukan," ujar Schwartz. Seolah itu tidak cukup buruk, menurut Frankle, teknologi pengenalan wajah saat ini juga masih tidak terlalu bagus. 

"Para ahli di bidang ini setuju bahwa teknologi pengenalan wajah tidak seakurat teknologi sidik jari," katanya. Schwartz juga mempertanyakan apa yang akan perusahaan lakukan dengan data biometrik wajah pengguna yang telah mereka gunakan. 

Terkait pertanyaan ini, peneliti keamanan di The Phobos Group, Dan Tentler berkata, "Kita tahu bahwa Apple dan Google telah mengumpulkan data pengenalan wajah, tapi apa artinya untuk konsumen? Jika konsumen menggunakan wajah mereka sebagai metode autentikasi walau mereka juga mengambil selfie dan memajangnya di internet, itu sama seperti menggunakan kata 'password' sebagai password dan menatonya di jidat Anda."

Ketika ditanya terkait hal ini, Qualcomm mengatakan bahwa mereka mengambil tindakan serius untuk memastikan keamanan dan privasi konsumen terjaga.

"Memang, software autentikasi buatan manufaktur ponsel akan yang akan mengimplementasikan teknologi pengejalan wajah, tapi mereka akan memperkuat keamanan dengan menggunakan fitur yang ada di Snapdragon Mobile Platform," kata Senior Director of Product Management, Qualcom Snapdragom Security Team, Sy Choudhury. "Ada berbagai langkah yang diambil untuk memastikan data wajah pengguna aman."

Adam Harvey, peneliti dan seniman yang suka mencoba membingungkan sistem pengenalan wajah menggunakan CV Dazzle dan HyperFace, mengatakan bahwa biometrik pengenalan wajah generasi berikutnya akan dipengaruhi oleh makeup yang digunakan seseorang.

"Meskipun pengenalan wajah kini mendapatkan perhatian media, menggunakan wajah saja sebagai kunci adalah praktek lama di berbagai fasilitas yang memerlukan keamanan tinggi," kata Harvel. "Kemungkinan, fitur biometrik baru pada iPhone akan menggabungkan beberapa biometrik sekaligus, seperti sidik jari, wajah, mata, dan mungkin kedipan untuk mendeteksi kehidupan. Tujuannya untuk meningkatkan akurasi autentikasi."

Apa dampaknya untuk konsumen?
Jika Anda hanya ingin memastikan ponsel Anda aman, ada cara mudah untuk melakukan itu. Daripada menggunakan kunci biometrik, Anda bisa menggunakan password yang menggabungkan huruf dan angka. 

Kalau kita menggunakan wajah sebagai kunci untuk ponsel, akun bank dan kegiatan digital lainnya, itu berarti, semakin banyak perusahaan dan badan pemerintah yang akan mendapatkan data tentang wajah kita. Semakin banyak foto yang beredar di internet, semakin mudah bagi para hacker untuk membobol kunci biometrik wajah. 


(MMI)

Video /