Monetisasi Lagu Cover Bisa Secara Legal, Caranya?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 28 Sep 2017 16:53 WIB
youtube
Monetisasi Lagu Cover Bisa Secara Legal, Caranya?
Anda bisa menggunakan jasa WATH untuk memonetisasi lagu cover di YouTube secara legal.

Metrotvnews.com: Memonetisasi lagu cover di YouTube sebenarnya ilegal. Kecuali, sang kreator bekerja sama dengan sebuah Multi Channel Network yang sudah memiliki perjanjian dengan penerbit lagu.

Satu-satunya cara untuk memonetisasi video lagu cover (termasuk mendapatkan uang dari iklan) adalah jika sang penerbit menemukan video itu dan meminta YouTube untuk mengklaimnya dan memberikan izin untuk memasang iklan di video tersebut. 

Memang, YouTube sudah memiliki sistem Content ID, tapi sistem itu jauh dari sempurna. Terkadang, Content ID tidak mengenali sebuah lagu adalah lagu cover karena lagu tersebut terlalu berbeda dari lagu aslinya, seperti yang disebutkan oleh Digital Music News

Sebelum tahun 2016, satu-satunya cara untuk mendapatkan lisensi sinkronisasi (yang Anda perlukan untuk memonetisasi lagu cover secara legal) dari penerbit musik adalah dengan bernegoisasi dengan mereka. Sayangnya, kebanyaakn perusahaan besar tidak akan mau menghabiskan waktunya dengan "musisi amatir".

Sekarang, ada cara yang lebih mudah. We Are The Hits dibuat oleh Larry Mills ketika dia masih bekerja di Sony/ATV pada 2011. Pada awalnya, WATH hanya dibuat untuk membantu musisi amatir untuk memonetisasi lagu cover yang mereka buat secara legal. Sekarang, WATH juga merepresentasikan perusahaan-perusahaan ebsar seperti Universal dan Warner/Chappell. 



Jadi, jika Anda ingin mengunggah video lagu cover ke YouTube, Anda cukup membuat akun di WATH. Anda bisa mencari database mereka untuk melihat apakah lagu yang hendak Anda buat tersedia dan mengunggah video Anda ke We Are The Hits. Setelah itu, Anda bsia mengunggahnya ke channel YouTube Anda dan memonetisasinya. Keuntungan yang didapat dari video tersebut akan dibagin untuk Anda dan penerbit. 

Diperkirakan, video yang dimonetisasi akan mendapatkan USD1,000 (Rp13,3 juta) per satu juta view setelah dipotong oleh YouTube. WATH akan mengambil bagian 60 persen untuk membayar penulis/penerbit musik dan Anda bisa mendapatkan 40 persen. Jadi, misalnya lagu Anda ditonton sebanyak 10 juta orang, maka Anda akan mendapatkan sekitar USD4,000 (Rp54 juta). 

Sayangnya, saat ini, WATH hanya menjangkau lagu cover di YouTube dan tidak di media sosial lain seperti Facebook dan Instagram. Selain itu, lagu-lagu Indonesia biasanya tidak ditemukan di dalam database WATH. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.