Pemerintah Ubah PP 82, Apa Dampaknya ke Industri Cloud?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 24 May 2018 21:52 WIB
microsoftcloud computing
Pemerintah Ubah PP 82, Apa Dampaknya ke Industri Cloud?
Acara Microsoft yang diadakan di Fairmont Hotel.

Jakarta: Presiden Joko Widodo mengumumkan program Making Indonesia 4.0 pada bulan April lalu. Program itu merupakan upaya pemerintah untuk membangun industri manufaktur berdaya saing global melalui percepatan implementasi industri 4.0.

Dalam acara Microsoft yang diadakan di Fairmont Hotel, Dirjen Aptika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan menjelaskan bahwa melalui program ini, pemerintah ingin mendorong tumbuhnya era ekonomi digital dengan mengembangkan bisnis digital seperti Tokopedia, Traveloka, Bukalapak dan Go-Jek. 

Untuk mencapai tujuan itu, ungkap Semuel, pemerintah akan menyiapkan regulasi untuk memudahkan para pelaku industri dalam berbisnis.

Terkait industri cloud, salah satu regulasi yang ada adalah Peraturan Pemerintah 82 tentang Informasi Transaksi Elektronik, yang menyebutkan bahwa penyelenggara sistem elektronik harus menempatkan pusat data atau data center mereka di Indonesia. 

Peraturan ini tengah direvisi dengan tujuan agar perusahaan di Indonesia bisa menggunakan layanan cloud. "Awalnya, banyak yang bilang jika peraturan pemerintah diubah, maka industri lokal yang mati," kata Semuel. "Tapi, industri lokal justru tumbuh."

Dalam RPP PSTE (Rancangan Peraturan Pemerintah Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik), data yang dimiliki oleh sebuah instansi akan dikategorikan ke dalam tiga kelompok: data strategis, data berisiko tinggi dan data berisiko rendah.



Data dengan risiko rendah dan risiko tinggi boleh saja disimpan di cloud. Untuk data berisiko tinggi, syaratnya adalah ada data yang disimpan di dalam negeri. Hanya data strategis saja yang harus disimpan di dalam data center di Indonesia.

Tujuan pengkategorian data ini adalah agar perusahaan dapat memprioritaskan data yang mereka miliki dan tidak memerlakukan semua data dengan sama.

Semuel menjelaskan, jika semua data diperlakukan layaknya data strategis, maka biaya yang sebuah instansi keluarkan untuk menjaga keamanan data itu akan sangat tinggi. 

"Data strategis adalah data yang jika bocor keluar bisa mengganggu jalannya pemerintahan atau mengganggu hubungan antar negara," kata Semuel.

"Sementara data berisiko tinggi adalah data yang jika terjadi kebocoran akan menyebabkan gangguan di satu sektor industri, seperti perbankan."

Dia mengatakan, jika sebuah bank diserang, maka dampaknya tidak hanya memengaruhi bank tersebut, tapi juga bank-bank lain karena bank saling melakukan transaksi. 

Apa dampaknya terhadap industri cloud?
"Perubahan PP menguntungkan untuk semua organisasi yang tertarik untuk menggunakan cloud," kata Tony Seno Hartono, National Technology Officer, Microsoft Indonesia.

"Pemain data center juga masih diuntungkan, karena untuk kategori data berisiko tinggi dan strategis masih memanfaatkan data center mereka."

Lebih lanjut, pria yang akrab dengan sapaan Tony ini menjelaskan, RPP PSTE akan membantu industri cloud berkembang karena pemerintah melakukan klasifikasi data.

"Di PP yang lama, tidak ada klasifikasi data. Penyedia layanan publi harus memiliki data center dan data recovery center di Indonesia. Padahal, membuat data center di Indonesia tidak hanya mahal, tapi juga tidak ada yang menjaga."

Tony mengungkap, meski Microsoft tidak membangun data center di Indonesia, mereka bisa membawa fasilitas pada data center mereka ke data center yang ada di Indonesia. "Kalau satu institusi mau punya data center berteknologi cloud, fasilitas cloud server Microsoft bisa ditaruh di Indonesia," ujarnya.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.