HSL 2018 dan Mimpi Regenerasi Tim Esport

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 13 Dec 2018 17:35 WIB
gameesport
HSL 2018 dan Mimpi Regenerasi Tim Esport
Pembukaan HSL 2018. (Medcom.id)

Jakarta: Indonesia memiliki banyak pemain DOTA 2. Sayangnya, kebanyakan dari mereka enggan untuk membuat tim dan ikut serta dalam turnamen. Inilah fungsi dari liga amatir seperti High School League (HSL) 2018.

"Sebenarnya jumlah pemain DOTA 2 tidak berkurang, tapi timnya yang berkurang," kata Sonny Hadi Sukotjo, Vice President JD.ID HSL 2018.

"Kalau kita pergi ke warnet (warung internet), minta pemain yang paling jago untuk membentuk tim, dia tidak akan mau."

Seolah itu tidak cukup buruk, jumlah para pemain profesional tidak bertambah, walau anggota tim esport terkadang silih berganti. 

Sonny merasa, melakukan tur ke warnet atau iCafe untuk mencari gamer berbakat baru tidak akan efektif. Alasannya, karena ada perbedaan kemampuan bermain yang mencolok antara satu pemain dengan yang lain.

Dia menganggap, perbedaan kemampuan antar pemain ini lebih mudah untuk dijembatani dalam lingkungan sekolah.

Dengan diadakannya HSL 2018, diharapkan para murid SMA akan lebih bersemangat untuk membentuk tim dan ikut aktif dalam turnamen. "Kalau pemain sudah pernah naik panggung, mentalnya itu beda," katanya. Dan diharapkan, sikap ini akan berlanjut bahkan setelah mereka lulus SMA. 

Seperti namanya, HSL hanya ditujukan untuk para siswa SMA. Walaupun ditemukan gamer berkemampuan melalui liga ini, sayangnya, setelah para pemain lulus, ada kemungkinan nama para pemain akan dilupakan.

Namun, Sonny merasa, jika para siswa yang ikut serta dalam HSL sudah terlanjur senang bertanding, mereka akan membuat tim sendiri dan aktif bertanding.

"Bermain DOTA tidak lagi sekadar fun. Dia akan mencari tim baru," katanya. Dia mengungkap, jika HSL sukses, tidak tertutup kemungkinan mereka akan membuat liga untuk universitas.

Sementara itu, Yohannes Siagian, Kepala Sekolah SMA 1 PSKD, berbagi pengalamannya sebagai pelatih basket selama 20 tahun.

"Ketika ada banyak event, anak yang berbakat tidak akan perlu cari. Pasti ada yang mencari," katanya. Pihak yang mencari yang dia maksud adalah tim esport profesional. Dia merasa, tim profesional sekalipun selalu mencari anggota baru.

Saat ini, mencari anggota baru bagi tim profesional tidak mudah karena jumlah liga amatir di esport justru jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan liga profesional. Dia menjelaskan, seorang anak yang berbakat dan sukses di liga amatir, dia akan mendapatkan perhatian para tim profesional.

Selain itu, game esport juga biasanya memiliki sistem leaderboard, yang menampilkan nama para pemain terbaik. Ini memudahkan para tim profesional untuk mencari anggota baru dan memudahkan pemain baru untuk mendapatkan perhatian tim profesional.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.