Verizon: Peretasan Sistem Yahoo Hambat Proses Merger

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 14 Oct 2016 17:09 WIB
yahoo
Verizon: Peretasan Sistem Yahoo Hambat Proses Merger
Verizon mempertimbangkan apakah mereka hendak meneruskan perjanjian akuisisi Yahoo. (AP Photo/Elise Amendola, File)

Metrotvnews.com: Verizon Communications berkata bahwa mereka memiliki "alasan yang masuk akal" untuk percaya bocornya data pengguna Yahoo menjadi alasan yang cukup kuat bagi Verizon untuk membatalkan rencananya membeli Yahoo senilai USD4.83 miliar.

General Counsel Verizon, Craig Silliman berkata pada wartawan bahwa peretasan yang terjadi pada Yahoo dapat menyebabkan Verizon untuk membatalkan perjanjian yang mereka tawarkan.

"Saya rasa, sekarang ini kami punya alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa dampak peretasan memang besar dan kami menunggu Yahoo untuk menunjukkan akibat dari hal itu. Jika mereka percaya dampak yang disebabkan tidak besar, mereka juga harus dapat membuktikan hal itu," kata Silliman.

Dia menolak untuk menjawab pertanyaan apakah Yahoo dan Verizon sedang kembali mempertimbangkan perjanjian di antara mereka. Sementara itu, juru bicara Yahoo berkata, "Kami percaya diri dengan nilai Yahoo sebagai perusahaan dan kami akan terus berusaha untuk melakukan integrasi dengan Verizon."

Dalam perjanjian antara Verizon dan Yahoo, terdapat klausa yang menyebutkan, Verizon bisa membatalkan perjanjian jika muncul kejadian baru yang dapat memberikan dampak buruk pada bisnis, aset, properti atau hasil operasi atau keuangan perusahaan.

Silliman berkata, Komisi Dagang Federal AS telah menyetujui rencana Verizon untuk mengakuisisi Yahoo. Namun, mereka masih membutuhkan persetujuan dari Komisi Eropa dan Komisi Bursa dan Obligasi AS.

Verizon telah mendapatkan penjelasan singkat dari Yahoo. Namun, mereka masih memerlukan "informasi yang signifikan" dari Yahoo sebelum mereka membuat keputusan besarnya dampak dari peretasan dan bocornya informasi pribadi dari setidaknya 500 juta pengguna email Yahoo, kata Silliman.

Di bulan September, Yahoo mengaku bahwa sistem mereka diretas di tahun 2014, membuat informasi pribadi penggunanya bocor, seperti nama, alamat email, nomor telepon, tanggal lahir dan password yang terenkripsi.


(MMI)