Seperti Apa Inovasi Teknologi Smartphone 2019?

Ellavie Ichlasa Amalia, Lufthi Anggraeni    •    Kamis, 03 Jan 2019 17:48 WIB
teknologiKaleidoskop 2018
Seperti Apa Inovasi Teknologi Smartphone 2019?
Smartphones.

Jakarta: Smartphone menjadi salah satu perangkat yang tidak hanya berfungsi alat komunikasi, juga berbekal berbagai teknologi yang menawarkan kemampuan lebih canggih dan kemudahan bagi penggunanya.

Mengalami evolusi yang cukup pesat pada tahun ini di sejumlah faktor, yang menjadi tren selama tahun 2018. Sejumlah tren ini diperkirakan akan berkelanjutan pada tahun 2019 mendatang, meski beberapa di antaranya diprediksi akan mengalami penurunan.

 

Poni

Notch atau desain layar berponi mulai populer saat Apple memperkenalkannya pada iPhone X. Desain ini kemudian menjadi tren karena produsen smartphone lain yang meluncurkan ponsel berdesain ini.

Desain layar ini disebut akan mampu menyuguhkan konten multimedia dengan tampilan di layar lebih luas, dan tetap dapat menyematkan sejumlah sensor yang diperlukan serta kamera depan. Tahun 2018 menjadi tahun kemunculan ponsel berdesain layar tersebut dari berbagai vendor.



Evolusi lain juga hadir dalam beberapa bentuk serupa, salah satunya poni tetes air. Desain poni ini hadir dengan lebar lebih kecil, dengan bentuk menyerupai tetes air dan hanya cukup menampung kamera depan.

Smartphone dengan usungan desain poni layar tetes air ini termasuk Realme 2 Pro, Realme U1, Huawei Mate 20, dan perangkat Samsung yang diluncurkan di masa mendatang dilaporkan akan mengusung nama Samsung M20.

Sementara itu pada tahun 2019, tren ini diprediksi akan mengalami penurunan popularitas. Sebab sebagian besar produsen tengah berlomba menemukan desain layar terbaik dengan bingkai lebih tipis, sehingga layar lebih luas.

Salah satu produsen yaitu Samsung, yang pada bulan Desember lalu mendaftarkan paten desain layar berponi. Pada dokumen ini, Samsung mendaftar sebanyak enam desain poni dengan bentuk serupa tetes air.

Samsung juga mulai menciptakan desain layar tanpa poni, Infinity-O. Desain layar ini hadir dengan lubang di sudut panel layar untuk menyematkan kamera depan, dengan ukuran bezel sangat tipis.



Samsung dikabarkan akan menghadirkan desain layar ini pada perangkat unggulan terbarunya, Galaxy S10+, yang akan memperkenalkannya bersamaan dengan saudaranya, Galaxy S10, pada tanggal 20 Februari 2019 mendatang.

Informasi yang beredar menyebut, Samsung akan menghadirkan desain layar ini pada perangkat kelas menengah terbarunya, yaitu Galaxy A8s. Jika desain layar ini digemari dan diterima dengan baik oleh konsumen, bukan tidak mungkin bahwa desain serupa ini juga akan dihadirkan oleh lebih banyak produsen ponsel.

 

Artificial Intelligence (AI)

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah mulai dikenal masyarakat saat tersedia di smartphone melalui asisten digital Siri di iPhone. Kemudian teknologi AI mengalami perkembangan, tidak lagi hanya tersedia dalam bentuk asisten digital.

Sejumlah perusahaan mulai mengembangkan teknologi ini untuk mendukung fungsi lainnya seperti fotografi dan gambar, efisiensi daya dan keamanan. Pada awal kemunculannya, teknologi ini hanya tersedia pada perangkat kelas atas. 

Selain iPhone, teknologi ini awalnya hanya tersedia pada lini perangkat unggulan dan berharga tinggi seperti Samsung Galaxy S, Galaxy Note, Huawei Mate 10, dan LG V30. Namun sepanjang tahun 2018, sejumlah produsen juga berupaya untuk menghadirkan teknologi AI pada perangkat dengan penawaran harga lebih terjangkau.



Smartphone kelas menengah dengan dukungan ini termasuk Huawei Nova 3i dan Samsung Galaxy A6 Plus. Hampir seluruh perangkat kelas menengah ini mengunggulkan AI untuk mendukung kemampuan fotografi kamera, terutama untuk kamera depan.

Pada Huawei Nova 3i, teknologi AI juga dimanfaatkan untuk mendukung kualitas suara, memungkinkan pengguna berbicara dengan lebih nyaman dan mendengarkan dengan lebih jelas, terlepas dari lokasi keberadaan mereka.

Teknologi ini juga mampu mengidentifikasi beberapa elemen pemandangan, menurut konteks dari gambar yang direkam kamera dan ingin di foto. Tidak hanya untuk fotografi, AI juga dimanfaatkan pada fitur keamanan, untuk mengidentifikasi wajah guna membuka kunci perangkat.

Di masa mendatang, teknologi AI ini diprediksi akan mendukung tidak hanya dalam hal fotografi, baterai ataupun asisten virtual, dan meningkat penggunaan AI dalam bentuk lain. AI akan memainkan peran besar terkait konten pada perangkat cerdas, dan mengalami pengembangan lebih pesat di tahun 2019.

 

Kamera

Evolusi kamera di smartphone selama beberapa tahun terakhir tergolong pesat, terutama di tahun 2018. Evolusi kamera di smartphone tidak hanya ditampilkan oleh dukungan fitur dan teknologi, tapi juga pada jumlah lensa.

Sebelumnya, kamera ganda menjadi tren yang menjangkiti produsen smartphone. Tidak hanya di kamera belakang, lensa ganda juga dihadirkan sejumlah produsen, seperti LG, Huawei, Honor, Samsung dan Asus, pada kamera depan.

LG menghadirkan dukungan kamera depan ganda V40 ThinQ, sedangkan Huawei menghadirkan kamera ganda ini termasuk pada Nova 3 dan Nova 3i, serta Huawei Mate 20 Lite. Sedangkan Honor menghadirkan kamera depan ganda ini pada Honor 9 Lite, Samsung pada Galaxy A8+, dan Asus pada ZenFone 4 Selfie dan ZenFone 4 Selfie Pro.

Kamera berjumlah lebih dari dua juga kian diminati produsen pada tahun 2018, salah satu yang paling spektakuler adalah Samsung Galaxy A9 dengan dukungan kamera belakang berjumlah empat buah. Jumlah ini menjadi yang terbanyak di smartphone yang tersedia di pasar saat ini.



Sebelum kemunculan Galaxy A9 (2018) pada bulan Oktober lalu, tren kamera berjumlah banyak ini baru mencapai jumlah sebanyak tiga buah, tersemat pada LG V40 ThinQ, kemudian disusul oleh Galaxy A7 (2018) yang diluncurkan  bersamaan dengan Galaxy A9 (2018).

Tren kamera berjumlah banyak ini akan terus berlanjut di 2019, dan akan semakin banyak produsen smartphone yang akan mencoba peruntungannya menghadirkan ponsel dengan dukungan kamera belakang berjumlah lebih dari dua.

Bahkan menurut bocoran informasi yang beredar, HMD Global, pemilik lisensi merek Nokia untuk smartphone, tengah mempersiapkan Nokia 9 PureView, dengan dukungan lima kamera belakang.

 

Sensor Sidik Jari Bawah Layar

Pada awalnya, sensor sidik jari adalah fitur premium yang hanya ada pada ponsel flagship. Belakangan, fitur sensor sidik jari bisa ditemukan pada hampir semua ponsel, bahkan ponsel kelas pemula sekalipun. Biasanya, sensor sidik jari terletak pada tombol Home ponsel atau pada bagian belakang ponsel.

Seiring dengan munculnya tren desain bezeless, maka perusahaan pembuat smartphone berusaha untuk menemukan metode pengamanan lain sehingga mereka tidak lagi perlu membuat tombol Home fisik.

Apple memilih untuk mencoba menggunakan metode pengenalan wajah. Fitur Face ID pertama kali diperkenalkan pada iPhone X. Kini, semua iPhone baru -- iPhone XS, XS Max, dan XR -- telah dilengkapi dengan sistem keamanan itu.

Beberapa vendor smartphone juga mulai mengadopsi sistem pengenalan wajah. Samsung misalnya, memilih untuk menggabungkan sistem pengenalan wajah dan iris mata. Metode lain yang perusahaan smartphone coba gunakan adalah under display sensor atau sensor di bawah layar. 

Metode ini telah Qualcomm perkenalkan pada MWC Shanghai 2017. Ketika itu, sensor sidik jari ultrasonik baru terpasang pada ponsel prototipe.

Pada 2018, ada beberapa ponsel premium yang telah menggunakan sensor di bawah layar, seperti Huawei Mate 20 Pro, Xiaomi Mi 8 Explorer Edition, dan Vivo X21. Sayangnya, dari tiga ponsel itu, hanya satu yang masuk ke Indonesia, yaitu Mate 20 Pro.



Tahun 2019, kemungkinan, akan ada lebih banyak smartphone yang menggunakan sensor sidik jari pada layar. Pada Tech Summit 2018, Qualcomm memperkenalkan Snapdragon 855, yang sudah mendukung fitur sensor sidik ultrasonik.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Snapdragon 855 akan digunakan pada smartphone flagship seperti Samsung Galaxy S10. Dikabarkan, Nokia 9 akan menjadi smartphone lain yang menggunakan sensor sidik jari pada layar. 

SVP & GM Mobile, Qualcomm, Alex Katouzian mengatakan, smartphone yang dilengkapi dengan 3D Sonic Sensor ini akan diluncurkan pada 2019.

Satu hal yang membedakan sistem 3D Sonic dari Qualcomm dengan sensor sidik jari optik yang digunakan pada kebanyakan ponsel adalah sensor optik hanya mengambil gambar 2D sementara sensor 3D Sonic akan memetakan sidik jari Anda menggunakan gelombang suara.

Salah satu kelebihan dari sensor 3D Sonic adalah ia akan dapat membuka kunci ponsel bahkan ketika jari Anda dalam keadaan basah atau berminyak. Qualcomm juga mengklaim bahwa sensor buatannya akan lebih aman. 

 

Ponsel Lipat

Desain lipat pernah populer di awal tahun 2000an, meski kemudian mengalami penurunan popularitas setelah Apple memperkenalkan ponsel layar sentuh karyanya, iPhone generasi pertama. Sejumlah produsen seperti Samsung masih berupaya menghadirkan ponsel dengan desain ini, meski pada ponsel feature dan sebagai perangkat low-end.

Samsung juga menjadi produsen yang berusaha mengembalikan popularitas desain ini dan mengombinasikannya dengan desain layar sentuh, melalui smartphone pada lini W yang berbekal layar sentuh di sisi luar dan dalam perangkat.

Evolusi desain lipat tidak terhenti di sana, sebab sejumlah produsen mengembangkan ponsel berlayar lipat. Tidak mengusung layar terpisah dan dapat dilipat via engsel yang terlihat, sejumlah produsen mengembangkan panel layar yang dapat ditekuk sembari menyembunyikan engsel.

Desain lipat generasi baru ini akan menjadi tren di tahun 2019, sebab perusahaan teknologi seperti Samsung, Motorola, Huawei, LG, Apple, dan Microsoft yang kian gencar mendaftarkan paten terkait dengan smartphone berpanel fleksibel dan dapat dilipat ini.



Perangkat lipat Samsung disebut akan mengusung layar bernama Infinity Flex Display. Perangkat ini dikabarkan akan mengusung nama Galaxy X atau Galaxy F. Ponsel lipat ini dikonfirmasi akan menggunakan nama Galaxy F, dan dirumorkan akan diluncurkan pada bulan Maret 2019.

Sedangkan Motorola disebut akan menghadirkan perangkat berdesain lipat ini sebagai penerus perangkat lipat ikonik Motorola Razr. LG juga telah mendaftarkan paten untuk perangkat berdesain lipat ini, dengan layar fleksibel yang dapat dilipat di bagian tengah.

Namun, berita mengejutkan datang dari Apple yang turut mendaftarkan paten untuk perangkat berdesain ini. Paten perangkat Apple ini disebut mengusung layar fleksibel dengan bagian yang dapat menekuk.

Perangkat ini diperkirakan meluncur pada tahun 2020, dengan dukungan konektivitas jaringan 5G. Sementara itu, Microsoft telah dirumorkan sejak lama tengah mengembangkan ponsel berdesain lipat, dan sering kali diperkirakan akan menjadi bagian dari lini Surface.

Perangkat ini dirumorkan mengusung nama Andromeda. Rumor soal perangkat Microsoft ini didukung oleh paten berjudul Hinged Device, menampilkan perangkat berupa tablet dengan layar yang dapat ditekuk dan dilipat, memungkinkan perangkat untuk dilipat ke arah dalam atau luar.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.