Membiarkan Kicauan Anti-Muslim Trump, Ini Alasan Twitter

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Sabtu, 02 Dec 2017 13:12 WIB
media sosialdonald trump
Membiarkan Kicauan Anti-Muslim Trump, Ini Alasan Twitter
Twitter mengganti penjelasannya tentang mengapa mereka membiarkan kicauan anti-Muslim dari Trump. (AP Photo / Matt Rourke, File)

Jakarta: Twitter kesulitan menjelaskan dan menjalankan peraturannya sendiri terkait ujaran kebencian. Minggu ini, Twitter menanggapi propaganda anti-Muslim yang Presiden AS Donald Trump retweet pada akunnya. 

Ketika itu, Twitter menyebutkan bahwa beberapa video mungkin akan tidak akan dihapus karena memiliki nilai berita dan menyangkut kepentingan masyarakat luas. Sekarang, Twitter mengganti alasannya. Mereka menyebutkan, kicauan Trump tidak dihapus karena masih sesuai dengan peraturan media Twitter saat ini.. 

Namun, seperti yang disebutkan oleh Engadget, dalam peraturan terkait ujaran kebencian, Twitter secara jelas menyebutkan, "Anda tidak boleh mempromosikan kekerasan pada atau secara langsung menyerang atau mengancam orang lain berdasarkan ras, etnis, asal negara, orientasi seksual, jenis kelamin, identitas gender, kepercayaan, umur, disabilitas atau penyakit. Kami juga tidak mengizinkan akun yang tujuan utamanya adalah melukai orang lain berdasarkan alasan-alasan tersebut."

Sementara sekarang, Twitter memberikan referensi pada peraturan yang menyebutkan, "Beberapa bentuk konten dewasa atau kekerasan mungkin akan dibiarkan dalam Twitter ketika ia ditandai sebagai konten sensitif. Namun, Anda tidak boleh memasukkan konten seperti ini dalam video langsung, gambar profil atau gambar header." 

"Selain itu, kami juga mungkin akan meminta Anda untuk menghapus konten yang mengandung kekerasan grafik yang berlebihan untuk menghormati orang yang telah meninggal atau keluarga mereka jika kami mendapatkan permintaan dari keluarga atau perwakilan badan berwenang."

Kedua peraturan itu tidak hanya membingungkan, tapi juga saling bertentangan. Satu hal yang pasti, fakta bahwa Twitter kini dipenuhi dengan konten ujaran kebencian bukanlah kabar yang baik untuk media sosial tersebut. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.