Tidak Ada Platform yang Kebal Terhadap Ransomware

Cahyandaru Kuncorojati    •    Jumat, 10 Nov 2017 10:11 WIB
cyber security
Tidak Ada Platform yang Kebal Terhadap Ransomware
Ransomware menjadi salah satu malware serangan siber yang merepotkan sebab ransomware akan menyandera data di perangkat yang terjangkit dan meminta uang tebusan ke korbannya.

Metrotvnews.com, Jakarta: Berdasarkan hasil penelitian perusahaan keamanan jaringan Sophos, disebutkan bahwa tidak ada satupun platform yang bisa terhadap serangan ransomware.

Hasil ini diperoleh dari riset SophosLabs 2018 Malware Forecast yang dimulai sejak 1 April hingga 3 Oktober 2017.

Meskipun tidak ada satupun platform yang kebal terhadap ransomware, dari data yang diperoleh terungkap bahwa perangkat berbasis Windows menjadi platform yang paling sering terjangkit selama 6 bulan terakhir. Android, Linux, dan MacOS juga tidak kebal, walaupun tidak separah Windows.

Ransomware telah menjadi agnostik terhadap jenis platform. Mayoritas ransomware menyasar komputer berbasis Windows tapi tahun ini SophosLabs melihat adanya peningkatan angka serangan crypto pada perangkat dan sistem operasi berbeda yang digunakan oleh pelanggan kami di seluruh dunia,” jelas peneliti di SophosLabs, Dorka Palotay.

Palotay menuturkan bahwa untuk pertama kalinya WannaCry menjadi jenis ransomware yang jumlah serangannya bisa mengalahkan ransomware terdahulu, yaitu Cerber yang muncul di awal tahun 2016. 45.3 persen dari seluruh ransomware yang ditelusur oleh SophosLabs merupakan WannaCry, sedangkan Cerber hanya 44.2 persen.

Ransomware NotPetya yang kemudian menyerang pada bulan Juni lalu juga termasuk sangat berbahaya tetapi karena sebagian besar komputer sudah terjangkit WannaCry jadi hanya tersisa sedikit jaringan perangkat yang masih memiliki celah keamanan rendah.

Serangan ransomware juga tercatat oleh Sophos terus meningkat jumlahnya, hampir setiap bulan di tahun 2017 angkanya meningkat. Dari berbagai macam malware yang terdeteksi oleh Sophos di bulan September, 30,4 persen adalah ransomware.

Di Indonesia sendiri, 92 persen serangan siber ransomware yang terjadi berupa WannaCry, sedangkan Cerber hanya sekitar 7,5 persen. Sisanya ditempati oleh ransomware jenis Locky dan lain-lain.

Diperkirakan akan melonjak menjadi sekitar 45 persen di bulan Oktober. Salah satu alasannya ransomware di Android menjadi populer karena ini merupakan cara mudah bagi penjahat siber untuk menghasilkan uang daripada mencuri data kontak dan SMS, memasang iklan atau melakukan phishing bank yang memerlukan teknik peretasan yang canggih," kata peneliti SophosLabs, Rowland Yu.

Yu mengingatkan, ransomware Android sering ditemukan di pasar aplikasi non-Google Play, oleh sebab itu pengguna diminta sangat berhati-hati terhadap sumber dan jenis aplikasi yang mereka unduh.

SophosLabs menyebutkan ada dua jenis metode serangan Android yang muncul. Pertama, mengunci telepon tanpa mengenkripsi data. Kedua, mengunci telepon sekaligus mengenkripsi data. 

Kebanyakan ransomware di Android tidak mengenkripsi data pengguna. Namun, tindakan penguncian layar dengan imbalan uang cukup membuat orang kesulitan, terutama karena pengguna mengakses informasi pada perangkat pribadi berapa kali dalam sehari.

"Sophos merekomendasikan untuk back up telepon secara rutin, mirip dengan komputer, untuk menyimpan data dan menghindari pembayaran uang tebusan hanya untuk mendapatkan kembali akses. Kami melihat ransomware pada Android akan terus meningkat dan menjadi jenis malware paling dominan pada platform mobile di tahun-tahun yang akan datang, " kata Yu.


(MMI)

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie
Review Smartphone

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie

1 day Ago

Vivo V7 Plus kembali mengunggulkan kemampuan kamera depan, yang diklaim mampu memanjakan penggu…

BERITA LAINNYA
Video /