Gandeng NASA, Uber Garap Software Taksi Terbang

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 09 Nov 2017 10:39 WIB
ubernasa
Gandeng NASA, Uber Garap Software Taksi Terbang
Uber ingin mengembangkan taksi terbang otonom. (Uber)

Metrotvnews.com: Uber mengambil satu langkah baru untuk merealisasikan proyek "taksi terbang" mereka, melalui tanda tangan kontrak NASA untuk mengembangkan software yang mengatur lalu lintas taksi terbang.

Chief Product Officer, Uber, Jeff Holden mengumumkan kontrak tersebut pada Web Summit di Lisbon. Selain itu, dia juga menyebutkan bahwa Uber akan mulai menguji layanan taksi terbang dengan kecepatan 200 mil per jam dan memuat 4 penumpang itu di Los Angeles paa 2020, kota kedua yang menjadi tempat untuk mengujikan proyek taksi terbang mereka selain Dallas.

Menurut laporan The Guardian, Uber berkata bahwa layanan taksinya akan sepenuhnya menggunakan energi listrik. Mereka juga mengklaim, perjalanan yang memakan waktu 80 menit menggunakan mobil dalam jam sibuk bisa ditempuh hanya dalam waktu 4 menit menggunakan layanan ini.

Uber juga berencana untuk mengoperasikan layanannya pada Olimpiade LA pada 2028. Namun, para ahli tetap skeptis taksi terbang otonom bisa terwujud. 

Holden berkata, "Untuk bisa melakukan ini dengan aman dan efisien, diperlukan perubahan besar dalam teknologi manajemen ruang di udara. Menggabungkan keahlian software milik Uber dengan puluhan tahun pengalaman NASA terkait penerbangan memungkinkan kami menyelesaikan masalah ini."

Perjanjian Space Act memungkinkan Uber untuk ikut serta dalam proyek untuk mengembangkan sistem manajemen trafik kendaraan otonom dan juga penerbangan drone. Uber berkata, mereka tidak tertarik untuk membuat drone yang mereka perlukan sendiri.

Sebagai gantinya, mereka akan bekerja sama dengan 5 manufaktur yang tengah mengembangkan pesawat VTOL (Vertical Takeoff and Landing). 

Tahun ini, Uber juga mulai mempekerjakan dua mantan pegawai NASA, Mark Moore dan Tom Prevot untuk mengepalai tim desain kendaraan dan tim program manajemen trafiknya. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.