Aplikasi Punya Imigrasi Bandara Soetta Mampu Deteksi WNA

Farhan Dwitama    •    Sabtu, 25 Nov 2017 12:21 WIB
aplikasi
Aplikasi Punya Imigrasi Bandara Soetta Mampu Deteksi WNA
Kabid Wasdakim Kantor Imigrasi Klas I Khusus Soekarno Hatta, Barron Ichsan, saat mensosialisasikan e manifest in Indonesia, Jumat 24 November 2017.

Tangerang: Lakukan percepatan pelayanan keimigrasian, Kantor Imigrasi klas I Khusus Soekarno Hatta terapkan sistem digital dalam mendata warga negara asing masuk ke Indonesia. 

Tujuannya agar mempermudah kinerja Imigrasi Bandara Soetta, terutama dalam mengidentifikasi kedatangan WNA ke Indonesia. 

"Jadi, nanti maskapai cukup secara elektronik mengirimkan data penumpang mereka yang keluar dan masuk ke Indonesia. Nanti kita akan hunting langsung penerbangan apa, berapa jumlah penumpangnya," kata Enang saat mensosialisasikan sistem e-manifest di Bandara Hotel, Tangerang, Jumat 24 Movember 2017. 

Tentunya dengan sistem tersebut,  petugas Imigrasi akan lebih cepat dalam mengecek paspor penumpang, seperti masa aktif paspor tersebut. Sehingga dapat mempersingkat waktu pengecekan.

"Biasanya kalau sistem manual itu data fisik yang dikirim dari maskapai 4 jam sebelum penerbangan. Bisa dibayangkan sehari ada 300 penerbangan, dikalikan saja satu penerbangan berapa penumpang, jadi banyak data para penumpang yang belum sempat diproses tapi pesawatnya sudah berangkat," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian, Barron Ichsan mengatakan saat ini sistem tersebut masih dalam tahap percobaan yang dilakukan oleh empat maskapai, yakni Lion Air, Phillipine Airlines, Oman Airlines, dan Vietnam Airlines.

"Ya masih ujicoba, secepatnya akan diterapkan dengan seluruh maskapai, ada sekitar 24 maskapai dan 7 kargo yang akan diterapkan," kata Barron.

Kedepan, lanjut Barron, sistem tersebut juga akan terintegrasi dengan sistem Border Control Management (BCM) yang telah dimiliki oleh Imigrasi untuk mengawasi lalu lintas penumpang.

"Kedepan dapat terkoneksi dengan sistem Cekal dan BCM yg dimiliki Imigrasi, sehingga dapat mengetahui seberapa sering orang datang ke Indonesia, apa tujuannya, bisa tau siapa saja yang tidak diinginkan datang ke Indonesia, dan siapa saja yang persyaratan administrasinya kurang untuk masuk atau berangkat dari Indonesia," kata dia.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.