Undang-Undang AS Cegah Pemerintah Gandeng Huawei dan ZTE?

Lufthi Anggraeni    •    Minggu, 14 Jan 2018 08:18 WIB
huaweizte
Undang-Undang AS Cegah Pemerintah Gandeng Huawei dan ZTE?
Anggota parlemen Republiken mengajukan rancangan undang-undang untuk cegah pemerintah Amerika Serikat bekerja sama dengan Huawei dan ZTE.

Jakarta: Anggota parlemen Republik mengumumkan telah memperkenalkan undang-undang yang secara spesifik ditujukan untuk Huawei dan ZTE. Undang-undang ini dirilis secara publik pada Jumat lalu, dihadirkan untuk mencegah jalinan kerja sama pemerintah dengan Huawei dan ZTE.

Undang-undang ini berisi pelarangan pihak pemerintah untuk bekerja sama dengan dua perusahaan asal Tiongkok tersebut, dan menggunakan peralatan yang diproduksi keduanya, ataupun layanannya.

Undang-undang ini segera dirilis setelah keputusan AT&T membatalkan kerja sama dengan Huawei akibat tekanan politik menjadi pemberitaan. Anggota parlemen Republik yang memperkenalkan undang-undang ini adalah Mike Conway.

Undang-undang tersebut didasarkan Conway pada kekhawatiran terkait spionase, setelah mendapatkan laporan dari House of Intelligence Committee pada tahun 2012 lalu. Laporan ini menandai Huawei dan ZTE sebagai ancaman nasional.

Teknologi komersial Tiongkok dinilai sebagai kendaraan bagi pemerintah Tiongkok untuk memata-matai agensi federal Amerika Serikat, dan menyamarkan ancaman keamanan nasional tingkat tinggi.

Selain itu, undang-undang tersebut juga memaparkan bahwa mengizinkan Huawei, ZTE, dan entitas terkait lain untuk mengakses komunikasi pemerintah Amerika Serikat mampu menghadirkan celah penagawasan bagi pemerintah Tiongkok ke dalam seluruh aspek kehidupan di negara yang dikepalai oleh Donald Trump tersebut.

Persetujuan undang-undang tersebut tidak akan menghalangi ZTE dan Huawei dalam memasarkan smartphone dan layanan di Amerika Serikat tanpa batasan. Namun, sejumlah perusahaan yang bekerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat diperkirakan tidak akan melanjutkan ataupun sama sekali bekerja sama dengan keduanya.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.