Versi Peramban Diblokir, Bagaimana Nasib Aplikasi Telegram?

Riandanu Madi Utomo    •    Senin, 17 Jul 2017 20:32 WIB
kominfotelegram
Versi Peramban Diblokir, Bagaimana Nasib Aplikasi Telegram?
Bukti konten terkait terorisme dan radikalisme yang diunggah via Telegram menurut Kominfo. (MTVN/DANU)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah mengklaim telah mengantongi sejumlah bukti berupa konten terorisme yang didapat dari aplikasi pengirim pesan Telegram.

Konten tersebut terdiri dari pesan, dokumen, foto, serta video yang jumlahnya dikatakan mencapai 17 ribu halaman. Konten tersebut akan menjadi bukti yang memperkuat putusan pemblokiran Telegram.

Pemerintah juga mengatakan Telegram merupakan aplikasi yang paling banyak digunakan untuk mendukung aksi terorisme. Dikatakan dari sejumlah aksi teror yang berhasil dilacak pemerintah, sebagian besar pelakunya mendapat arahan dan berkomunikasi menggunakan Telegram. Aplikasi ini menjadi pilihan, sebab memiliki berbagai fitur termasuk enkripsi yang memungkinkan percakapan akan sulit disadap.

Pemblokiran Telegram saat ini memang hanya sebatas pada akses via peramban saja, sementara versi aplikasi mobile masih bisa digunakan. Pemerintah mengatakan, versi web menjadi incaran utama karena memiliki beragam fitur ekstra. Salah satu fiturnya adalah memungkinkan pengguna untuk mengunggah file hingga 1,5GB. Sementara hingga saat ini masih belum ada wacana untuk memblokir aplikasi mobile-nya.

Langkah pemblokiran ini dianggap cukup efektif dan hasilnya mulai terlihat. Pihak BNPT mengatakan beberapa jaringan terorisme yang tengah dipantau kini sedang kesulitan mencari layanan messengger yang serupa. 

Klaim pemerintah tersebut bertentangan dengan pengamatan pakar IT Onno W Purbo. Kepada Metrotvnews.com, Onno mengatakan upaya pemblokiran ini justru kurang efektif sebab para teroris akan menggunakan layanan lain. Bagi Onno, lebih baik pemerintah membungkam langsung pelaku dan memblokir kontennya.

Pemerintah melalui Kementerian Komunimasi dan Informatika memblokir aplikasi pengirim Telegram. Alasannya adalah karena aplikasi itu sering digunakan oleh anggota grup radikalisme dan teroris untuk berkomunikasi.

"Aplikasi Telegram dipakai oleh teroris jaringan radikalisme untuk berkomunikasi," ujar Noor Iza kepada Metrotvnews.com. Dia menjelaskan, tingkat penggunaan Telegram oleh grup radikal dan teroris dirasa cukup intens. Karena itu, Kominfo memutuskan utk memblokir aplikasi pengirim pesan tersebut .

Noor menjelaskan, pemblokiran telah dilakukan mulai hari Jumat (14/7/2017) sebelum pukul 11.00 WIB. Lebih lanjut dia mengatakan, ke depan, tidak tertutup kemungkinan Kominfo akan memblokir aplikasi lain jika ditemukan adanya indikasi digunakan oleh grup teroris atau radikal.


(MMI)

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie
Review Smartphone

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie

3 days Ago

Vivo V7 Plus kembali mengunggulkan kemampuan kamera depan, yang diklaim mampu memanjakan penggu…

BERITA LAINNYA
Video /