46 Juta Data Pelanggan Seluler di Malaysia Bocor, Ada Apa?

Cahyandaru Kuncorojati    •    Kamis, 02 Nov 2017 13:39 WIB
telekomunikasicyber security
46 Juta Data Pelanggan Seluler di Malaysia Bocor, Ada Apa?
Kasus pembobolan data atau data breach biasanya selalu berkaitan dengan serangan siber terhadap sistem keamanan.

Metrotvnews.com: Bocornya data pelanggan seluler di Malaysia yang mencapai angka lebih dari 46 juta diprediksi menjadi salah satu kasus pembobolan data yang terbesar yang pernah terjadi di Asia.

Dari laporan Reuters, dampak yang ditimbulkan akan sangat besar bagi masyarakat Malaysia. Salah satu media teknologi lokal bernama Lowyat menyebutkan bahwa bulan lalu sudah ada pihak yang mencoba menjual database yang bocor tersebut.

Pihak pemerintah setempat, melalui Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia, Salleh Said Keruak menuturkan Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia bersama dengan pihak kepolisian tengah mencari tahu sumber permasalahan ini.

Dia hanya menyebutkan sudah menemukan celah yang berpotensi menjadi penyebab bocornya data pelanggan seluler Malaysia.

Permasalahannya adalah data yang bocor tersebut berisi cukup banyak data pribadi yang bisa dipergunakan untuk tidak kejahatan lain menggunakaan identitas palsu.

Data tersebut berisi nomor seluler yang dipergunakan, nomor tanda kependudukan, alamat rumah. Tidak kurang, ada 46,2 juta data pelanggan yang berasal dari 12 penyedia layanan seluler di Malaysia.

"Kasus pembobolan database pelanggan yang terjadi saat ini sama berbahayanya seperti kasus yang melanda Equifax, bahkan lebih parah lagi," jelas CEO Cashfield, Justin Lie sebuah perusahaan keamanan yang berbasis di Singapura.

"Database pelanggan yang bocor ke pihak tidak bertanggung jawab ini berisi data pribadi yang sangat lengkap jadi dampaknya bisa lebih parah. Penyalahgunaan identitas palsu ini bisa berimbas ke berbagai layanan."

Salah satu tim keamanan siber swasta yang berbasis di Singapura tersebut menjelaskan sempat menemukan database pelanggan tersbeut diperjual belikan pada jagat dark web dengan harga 1 bitcoin atau senilai USD6.500 setara Rp88 juta.

Meskipun demikian, sebelum akhirnya data tersebut dihapus dari peredaran, diketahui database yang tersebar adalah yang terakhir diperbarui pada tahun 2014.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.