Kontroversi YouTube Soal Pedofil di Kolom Komentar

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 21 Feb 2019 12:08 WIB
youtube
Kontroversi YouTube Soal Pedofil di Kolom Komentar
YouTube kini diterjang kontroversi lagi. (AFP PHOTO / NICOLAS ASFOURI)

Jakarta: Para kreator YouTube khawatir pendapatan mereka dari iklan akan menurun drastis karena kontroversi terkait ketidakmampuan YouTube untuk mencegah para predator anak berulah di kolom komentar pada video yang menampilkan anak-anak. 

Kontroversi ini menjadi topik pembicaraan hangat setelah Matt Watson mengunggah video pada 18 Februari, mengekspos tentang bagaimana para predator anak dan pedofil mengunggah ulang atau mencari video berisi anak-anak dan menggunakan bagian komentar untuk membahas tentang tubuh sang anak. 

Menurut The Verge, video itu menjadi bahan pembicaraan di forum internet selama berjam-jam. Watson meminta para penonton videonya untuk menghubungi perusahaan yang iklannya tampil di video anak dengan komentar dari para pedofil. Beberapa perusahaan itu antara lain Grammarly, L'Oreal, dan Maybelline. 

YouTube merespons dengan mengatakan bahwa walau jumlah video tempat berkumpulnya para pedofil tidak banyak, tapi mereka menanggapi masalah ini dengan serius. 

Sejauh ini, sudah ada beberapa perusahaan yang memutuskan untuk berhenti beriklan di YouTube. Developer Fortnite, Epic Games adalah salah satunya. Sementara beberapa perusahaan lain seperti Peloton dan Grammarly telah meminta YouTube untuk menyelidiki masalah ini.

Mereka juga bekerja sama dengan pihak ketiga untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tidak tertutup kemungkinan, mereka juga akan menghentikan iklan mereka. 

YouTube telah berusaha untuk memudahkan perusahaan tahu dalam video apa iklan mereka muncul. Namun, jelas terlihat bahwa perusahaan-perusahaan besar masih memiliki kekhawatiran bahwa iklan mereka akan muncul di video yang bermasalah dan menimbulkan skandal untuk mereka. 

Jika ada cukup banyak perusahaan yang memutuskan untuk memboikot YouTube dan berhenti menampilkan iklan di platform itu, ini akan menjadi masalah besar bagi YouTube. Ini bisa menyebabkan terjadinya apa yang para komunitas sebut sebagai "adpocalypse" -- kiamat iklan. 

Melalui Twitter, Roberto Blake, salah satu kreator dan komentator di YouTube, mengatakan bahwa apa yang Watson lakukan -- mendorong masyarakat untuk menghubungi perusahaan agar mereka berhenti memasang iklan di YouTube -- justru akan menyebabkan masalah baru. 

"Dia sengaja berusaha mendorong terjadinya Adpocalypse," tulis Blake. "YouTube memang punya masalah, memperbaiki masalah itu bukan berarti Anda mendorong orang-orang untuk menghubungi para pengiklan. Dia tidak berusaha menjadi pahlawan, ini adalah tindakan balas dendam."

Belakangan, YouTube telah memberikan kendali pada para pengiklan untuk menentukan dalam video seperti apa iklan mereka tampil. Para pengiklan juga bisa memutuskan agar iklan mereka tidak tampil di video dengan genre tertentu. 

Misalnya, para pengiklan bisa memberitahu YouTube bahwa mereka ingin iklan mereka tampil dalam video olahraga dan musik, tapi tidak pada video tentang game.

Dalam teori, video yang menampilkan anak-anak melakukan senam akan masuk ke dalam kategori video olahraga. Sebuah iklan bisa tampil di video itu, yang juga menarik para predator dan pedofil di bagian komentar. 

Kreator seperti Eion mengerti masalah ini. 

"Setiap hal ini terjadi, itu karena orang-orang tidak mengerti cara kerja iklan tertarget," kata Eion.

"Iklan tertarget memiliki sistem yang sama sekali berbeda dengan sponsor atau iklan di televisi. Coca-Cola tidak berusaha untuk mendekati kreator kanal ISIS dan berkata, 'Saya suka dengan video Anda, saya ingin menampilkan iklan di video Anda'. Coca-Cola menargetkan orang-orang yang berpontesi membeli produknya. Dan itu terdiri dari bermacam-macam orang."

"Jika para pengiklan meninggalkan YouTube, ini tidak akan menghentikan para pedofil berulah di bagian komentar," kata kreator seri populer Drama Alert, Daniel "Keemstar" Keem, dalam episode DramaAlert.

"Ini hanya akan menyulitkan para kreator YouTube, yang besar atau kecil... Dan YouTube telah melakukan tugasnya dengan baik dengan menghapus video-video itu."


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.