Konsumen Merasa Dirinya Aman, Hacker Justru Senang

Mohammad Mamduh    •    Senin, 30 Apr 2018 14:14 WIB
symanteccyber security
Konsumen Merasa Dirinya Aman, Hacker Justru Senang
Ilustrasi: Great People Inside

Jakarta: Konsumen merasa yakin mereka aman saat online, namun para hacker justru telah membuktikan sebaliknya dengan mencuri uang sebesar USD172 miliar dari 978 juta konsumen di 20 negara pada tahun lalu, menurut Laporan Norton Cyber Security Insights 2017.
 
Secara global, korban kejahatan siber memiliki profil yang sama. Mereka adalah konsumen yang sehari-hari menggunakan banyak perangkat baik di rumah maupun di perjalanan, tetapi tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang dasar-dasar keamanan siber.

Para korban ini cenderung menggunakan kata sandi yang sama untuk beberapa akun atau membagikan kata sandi itu dengan orang lain.

Selain itu, 39 persen korban dari kejahatan siber global, meskipun pernah menjadi korban, merasa percaya diri akan kemampuan mereka untuk melindungi data dan informasi pribadi mereka dari serangan lain di masa depan dan 33 persen percaya bahwa mereka memiliki risiko yang kecil untuk menjadi korban kejahatan siber.
 
Laporan Internet Security Threat Reports (ISTR) ke-23 menyebutkan bahwa profitabilitas ransomware pada tahun 2016 menjadikannya pasar yang menarik dengan permintaan tebusan yang terlalu mahal.

Namun pada tahun 2017, ‘pasar’ ransomware melakukan perubahan dengan lebih sedikit jenis ransomware dan permintaan tebusan yang lebih rendah. Sementara itu, ancaman di ranah mobile terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Tahun lalu, rata-rata 24.000 aplikasi mobile berbahaya diblokir setiap hari.
 
Di Indonesia, 78 persen dari 1.336 konsumen yang disurvei mengatakan bahwa mereka adalah korban dari kejahatan siber dengan kerugian total mencapai USD35 ribu. Setiap korban dalam survei kehilangan rata-rata waktu sebesar 34 jam untuk menangani akibat dari kejahatan tersebut.
 
Kejahatan siber yang bermotif finansial memang terjadi di Indonesia. Para pelaku menggunakan ransomware, penipuan bank, dan serangan spear phishing di industri jasa keuangan. Menurut ISTR, tampaknya terjadi peningkatan sebesar 1,29 persen pada tahun 2016 menjadi 1,67 persen di tahun 2017 dalam jumlah malware, spam, host phising, bot, serangan jaringan, ransomware, dan cryptominer.
 
Tahun lalu, Indonesia telah menangkap 153 warga negara asing yang menjalankan sindikat penipuan online di negara tersebut. Kelompok ini berhasil meraup USD450 juta pada tahun 2017. Para pelaku kejahatan ini dikenal sangat mahir dalam teknologi terbaru, menggunakan pendekatan sistematis dan terorganisasi dengan sangat baik.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang baru dibentuk melaporkan 205 juta serangan siber di negara ini pada tahun 2017. BSSN menganggap ini sebagai masalah yang sangat serius untuk ditangani dan mendorong masyarakat untuk menggunakan internet dengan bijak dan profesional.

Terlepas dari serangan-serangan siber yang terjadi tahun ini, orang Indonesia pada umumnya terus mempercayai lembaga yang mengelola data dan informasi pribadi mereka. Namun, mereka tidak mempercayai beberapa lembaga dan organisasi.
 
Survei menemukan bahwa konsumen memberi atau mempertahankan kepercayaan pada organisasi-organisasi seperti bank dan lembaga keuangan (43 persen), dan penyedia layanan perlindungan pencurian identitas (34 persen) meskipun terjadi serangan-serangan atas organisasi-organisasi tersebut yang menjadi berita utama tahun ini. 

Sebanyak 20 persen responden kehilangan kepercayaan pada platform media sosial. 
Survei juga menemukan bahwa lebih dari separuh (53 persen) korban kejahatan siber di Indonesia merasa percaya diri pada kemampuan mereka untuk mengelola data dan informasi pribadi mereka sendiri. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.