Kecerdasan Buatan Google Bisa Prediksi Penyakit Jantung via Mata Pasien

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 20 Feb 2018 14:45 WIB
teknologigoogle
Kecerdasan Buatan Google Bisa Prediksi Penyakit Jantung via Mata Pasien
Ilustrasi.

Jakarta: Para peneliti Google dan divisi teknologi kesehatan mereka, Verily telah menemukan cara baru untuk menghitung risiko seseorang terkena penyakit jantung menggunakan pembelajaran mesin.

Dengan menganalisa hasil pindaian dari bagian belakang mata seseorang, software Google bisa secara akurat mendapatkan data tentang seseorang, termasuk umur, tekanan darah, dan apakah mereka merokok.

Hal ini kemudian dapat digunakan untuk memprediksi tingginya risiko seseorang mengalami masalah terkait jantung seperti serangan jantung. Menariknya, metode ini memiliki tingkat keakuratan yang sama dengan metode paling canggih yang digunakan saat ini. 

Menurut The Verge, software tersebut akan memudahkan dokter untuk menganalisa risiko seorang pasien terjangkit penyakit jantung, mengingat ia tidak memerlukan tes darah. Namun, metode ini masih harus diteliti lebih lanjut sebelum bisa digunakan di dunia medis. 

Luke Oakden-Rayner, seorang peneliti medis yang mengkhususkan diri di bidang analisis pembelajaran mesin menyebutkan bahwa software ini memang solid dan menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) dapat membuat alat diagnosis yang telah ada sekarang menjadi lebih baik. 

"AI mengambil data yang telah diambil untuk alasan medis lain dan menemukan informasi yang lebih lengkap dari yang kita lakukan saat ini," kata Oakden-Rayner. "Ia bukan menggantikan dokter, tapi memungkinkan kita melakukan hal-hal lain."

Untuk melatih algoritma ini, para peneliti Google dan Verily menggunakan pembelajaran mesin untuk menganlisa sekumpulan data medis dari hampir 300 ribu pasien. Informasi tersebut termasuk pindaian mata dan juga data medis umum.

Sama seperti pembelajran mesin lain, AI ini kemudian digunakan untuk menganalisa data untuk mencari pola dan mempelajari tanda-tanda pada hasil pindaian mata untuk memprediksi risiko seseorang mengidap penyakit jantung. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.