Pengguna Telegram Meroket Tajam di Negara Korup

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 24 Jan 2018 15:52 WIB
aplikasitelegram
Pengguna Telegram Meroket Tajam di Negara Korup
Telegram dan Signal tumbuh pesat di negara korup. (MTVN)

Jakarta: WhatsApp dan Facebook Messenger adalah dua aplikasi pengirim pesan paling populer. Namun, aplikasi perpesanan yang fokus pada fitur keamanan seperti Signal dan Telegram juga berkembang dengan pesat.

Memang, kedua aplikasi itu menyasar pasar yang tidak terlalu besar, tapi, fitur keamanan mereka menarik bagi orang-orang yang peduli akan kerahasiaan pesannya, atau mereka yang tinggal di bawah rezim yang memata-matai masyarakatnya sendiri. 

Perusahaan analisis aplikasi asal Boston, Apptopia memerhatikan pertumbuhan pengguna Telegram dan Signal di negara-negara yang disebutkan sebagai negara paling korup.

Perusahaan itu juga membandingkan pertumbuhan pengguna kedua aplikasi itu di negara-negara yang paling korup dan yang paling baik menurut Transparency International.


Pertumbuhan pengguna Telegram, WhatsApp dan Signal di negara-negara yang korup dan negara paling tidak korup. 

Di negara-negara yang dianggap korup, Apptopia menemukan bahwa pertumbuhan pengguna aktif bulanan Telegram dan Signal jauh lebih tinggi dari pertumbuhan di negara-negara yang dianggap memiliki pemerintahan yang baik.

Di negara-negara korup, pertumbuhan pengguna Signal mencapai 147 persen. Sementara di negara-negara yang dianggap baik, pertumbuhan penggunanya hanya mencapai 11 persen. Pertumbuhan pengguna Telegram juga menunjukkan tren serupa.

Pada 2017, pengguna mereka tumbuh 118 persen di negara korup, sementara di negara-negara yang dianggap paling baik, pertumbuhan pengguna mereka hanya mencapai 99 persen. Memang, perbedaan pertumbuhan pengguna Telegram tidak sebesar Signal, meski perbedaan itu tetap cukup tinggi. 

Negara-negara yang dianggap korup adalah Venezuela, Nigeria, Kenya, Rusia dan Ukraina. Sementara negara yang dianggap yang paling baik adalah Denmark, Swedia, Swiss dan Selandia Baru. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.