Indonesia, Negara ke-3 Dunia Korban Malware Mobile Terbesar

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 27 Mar 2018 13:20 WIB
cyber securitykaspersky
Indonesia, Negara ke-3 Dunia  Korban Malware Mobile Terbesar
Ilustrasi serangan malware di smartphone.

Jakarta: Indonesia memang kerap disebut sebagai salah satu negara dengan penetrasi smartphone terbesar di dunia. Namun di balik itu, penggunanya juga dihantui malware mobile yang mengancam smartphone penggunanya.

Data dari Kaspersky Lab menyebutkan Indonesia menduduki posisi tiga besar negara di dunia yang paling sering terkena serangan malware mobile di tahun 2017 dengan persentase 41,14 persen. Iran di posisi pertama dengan 57,25 persen dan Bangladesh dengan 42,76 persen.

Kaspersky Lab menjelaskan bahwa malware mobile tersebut sebetulnya sudah ada sejak tahun 2016 dalam bentuk Trojan Mobile Advertising. Malware ini membuat smartphone pengguna tanpa diketahui melakukan rooting dan menjejali smartphone dengan aplikasi iklan dengan tujuan mengeksploitasi perangkat.

Di tahun 2017 lalu, Kaspersky Lab menyebutkan bahwa serangan malware mobile tersebut mulai menurun. Faktor yang mendorong penurunan adalah jumlah smartphone dengan sistem operasi Android versi lama semakin berkurang.

Menurut data Kaspersky Lab, persentase pengguna dengan perangkat yang menjalankan Android 5.0 atau yang lebih lama menurun dari lebih dari 85 persen pada tahun 2016 menjadi 57 persen pada tahun 2017.

Proporsi pengguna Android 6.0 (atau yang lebih baru) meningkat lebih dua kali lipat, 21 persen pada tahun 2016 dibandingkan dengan 50 persen pada tahun 2017. Meskipun begitu ternyata malware mobile Trojan Mobile Advertising masih terus berkembang.

Pada 2017, Kaspersky Lab berhasil menemukan modifikasi terbaru dari Trojan Mobile Advertising yang tidak mengeksploitasi kerentanan hak root untuk menampilkan iklan, tetapi sebaliknya mencoba metode lain, yaitu layanan SMS premium.

Pada saat yang sama, para ahli perusahaan juga melihat peningkatan jumlah Trojan Mobile Clickers yang mencuri uang dari pengguna Android melalui WAP-billing.

Trojan ini mengklik halaman layanan berbayar, dan setelah langganan diaktifkan, uang dari akun korban mengalir langsung ke akun peretas.

Menurut Kaspersky Lab ada beberapa cara untuk menghindari hal ini. Pertama adalah selalu perhatikan aplikasi yang terpasang di perangkat Anda dan hindari mengunduhnya dari sumber yang tidak dikenal.

Kedua, tidak lupa untuk selalu perbarui aplikasi dan sistem operasi perangkat Anda dan yang terakhir adalah secara teratur melakukan pemindaian sistem untuk memeriksa kemungkinan infeksi atau malware yang tersembunyi di perangkat Anda.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.