CEO Kibar: Unicorn Berikutnya dari Surabaya

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 14 May 2018 22:42 WIB
startup
CEO Kibar: Unicorn Berikutnya dari Surabaya
CEO Kibar, Yansen Kamto. (Medcom.id)

Jakarta: "Saya percaya, startup unicorn berikutnya akan berasal dari Surabaya," kata CEO Kibar, Yansen Kamto dalam acara peluncuran akselerator startup Digitaraya, yang merupakan hasil kerja sama antara Google dan Kibar. 

Saat ini, baik startup maupun investor masih terpusat di Jakarta. Menurut Vice President, Strategy, Digitaraya, Nicole Yap hal ini terjadi karena investor mencari startup di Jakarta, yang menyebabkan bermunculan startup di kota tersebut. Karena ada startup di ibukota, maka di sanalah investor memfokuskan perhatiannya. 

"Kami ingin fokus untuk mendistribusikan kesempatan," kata wanita yang akrab dengan panggilan Nicole ini. "Untuk melakukan itu, kami akan memberdayakan seluruh Indonesia." Salah satu kota yang menjadi fokus Kibar adalah Surabaya. Dia menjelaskan, di Surabaya, KIbar telah bekerja sama dengan pemerintahan Surabaya untuk mengembangkan ekosistem startup. 

"Menariknya, salah satu startup terbaik kami berasal dari Surabaya," ujar Nicole saat ditemui di Menara by Kibar. "Mungkin karena mereka merasa selalu diacuhkan, sehingga mereka harus bekerja lebih keras. Mereka punya keteguhan hati untuk bekerja keras."

Lebih lanjut Nicole menjelaskan, meski saat ini Jakarta menjadi pusat ekosistem startup Indonesia, Surabaya juga memiliki potensi untuk berkembang menjadi layaknya Jakarta. Selain itu, ada kota-kota lain di Indonesia yang memiliki potensi terkait ekosistem startup. Menurut Nicole, Pontianak adalah salah satu kota yang memiliki "anak-anak muda pekerja keras."

Sementara itu, di Bali, Kibar ingin mengembangkan ekosistem startup lokal, khususnya dalam bidang pariwisata.

"Kebanyakan anak muda di Bali, mereka berpikir untuk menjadi manajer hotel atau belajar di bidang manajemen. Mereka tidak berpikir untuk membuat sesuatu untuk mengembangkan pariwisata di Bali," kata Nicole. 

Lebih lanjut Nicole menjelaskan, banyak orang Amerika Serikat atau Eropa yang hidup di Bali meski mereka masih bekerja untuk perusahaan mereka dari jauh. "Kenapa kita tidak bisa memanfaatkan hal itu untuk mengembangkan ekosistem startup lokal?"


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.