Google Pakai Kecerdasan Buatan untuk Cari Aplikasi Jahat di Play Store

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 13 Jul 2017 10:48 WIB
googleaplikasi
Google Pakai Kecerdasan Buatan untuk Cari Aplikasi Jahat di Play Store
Google ingin mengurangi jumlah aplikasi jahat di Play Store. (Jan Persiel / Flickr)

Metrotvnews.com: Keamanan di Android selalu menjadi tantangan terbesar Google, mengingat sistem operasi mobile tersebut bersifat terbuka.

Belakangan, Google mulai sukses dalam usahanya melawan malware dan eksploitasi pada Android. Salah satu alasannya adalah karena penggunaan kecerdasan buatan yang bisa menemukan aplikasi bermasalah sebelum pengguna dapat mengunduh aplikasi tersebut. 

Google menjelaskan secara detail bagaimana teknik yang mereka gunakan -- yang disebut pengelompokkan aplikasi -- membantu mereka memastikan Play Store tetap aman.

Konsep metode pengelompokkan aplikasi cukup sederhana. Metode ini dapat mengenali aplikasi yang mencurigakan dengan membandingkan data aplikasi tersebut dengan aplikasi lain yang memiliki fungsi serupa, lapor The Verge

Misalnya, jika ada 20 aplikasi kalkulator dan salah satunya ada yang meminta izin untuk mengakses mikrofon, lokasi dan kontak, kemungkinan, aplikasi itu memiliki tujuan lain. Sistem baru Google akan langsung menandai aplikasi tersebut. Kemudian, teknisi Google akan meninjau aplikasi itu dengan lebih saksama. 



Dengan pembelajaran mesin, Google bisa menggunakan teknik pengelompokkan aplikasi untuk memindai aplikasi-aplikasi yang dimasukkan ke Play Store seara massal. Berbagai karakteristik digunakan untuk mengelompokkan banyak aplikasi ke grup-grup.

Beberapa karateristik itu seperti deskripsi, metadata (ukuran file aplikasi misalnya), dan statistik seperti jumlah pengunduh. Setelah aplikasi yang dianggap berbahaya dikelompokkan, aplikasi tersebut bisa dihapuskan. 

"Kami fokus pada tanda-tanda aplikasi bisa membawa efek negatif ke privasi pengguna, seperti izin ke fungsi yang tidak ada hubungannya dengan fungsi utama aplikasi dan juga tingkah laku aplikasi berdasarkan observasi," ujar Martin Pelikan, anggota dari tim keamanan dan privasi Google.

"Misalnya, aplikasi senter seharusnya tidak membutuhkan akses ke kontak atau komponen hardware ponsel pengguna. Hal yang sama berlaku untuk aplikasi-aplikasi lain seperti aplikasi cermin yang mengaktifkan kamera depan ponsel."

Teknik yang Google gunakan tampaknya memang bekerja dengan baik. Menurut laporan keamanan Android tahunan yang belum lama mereka luncurkan, persentase pengguna yang mengunduh aplikasi berbahaya dari Play Store turun dari 0,15 persen pada 2015 menjadi 0,05 persen pada 2016. 

Meskipun begitu, Google juga harus memerhatikan cara lain yang bisa pengguna gunakan untuk mengunduh aplikasi.


(MMI)

Video /