Pengguna Bulanan Twitter Ala Tiongkok Lebih Besar dari Twitter Asli

Lufthi Anggraeni    •    Sabtu, 20 May 2017 10:00 WIB
twitter
Pengguna Bulanan Twitter Ala Tiongkok Lebih Besar dari Twitter Asli
Jumlah pengguna Twitter ala Tiongkok yaitu Weibo lebih besar dibandingkan Twitter.

Metrotvnews.com: Tiongkok merupakan salah satu negara dengan regulasi paling ketat terkait dengan produk, terutama di bidang teknologi, untuk dapat tersedia di negaranya. Salah satu produk teknologi yang sangat dibatasi peredarannya di negara tersebut adalah media sosial.

Seperti yang telah diketahui masyarakat, Tiongkok menciptakan versinya sendiri dari sejumlah aplikasi media sosial, seperti Weibo. Aplikasi ini merupakan versi Tiongkok dari aplikasi jejaring sosial berlogo burung biru, yaitu Twitter.

Pembatasan terkait media sosial dari luar Tiongkok tersebut mendorong pertumbuhan signifikan terhadap jumlah pengguna Weibo. Hingga akhir Maret tahun ini, jumlah pengguna bulanan Weibo dilaporkan mencapai 340 juta, mengalahkan jumlah pengguna Twitter sebanyak 12 juta.

Perbedaan signifikan terkait jumlah pengguna kedua media sosial tersebut dinilai sejumlah pihak merupakan hal menarik, mengingat Twitter diluncurkan tiga tahun lebih dulu, yaitu pada bulan Juni 2006, jika dibandingkan dengan Weibo. Selain itu, 47 persen populasi Tiongkok juga belum terhubung dengan internet.

Menurut laporan media Tiongkok, Weibo mengalami peningkatan pendapatan tahunan yang sehat pada kuartal pertama tahun 2017, sebesar USD199,2 juta (Rp2,6 triliun). Sementara pada periode yang sama tahun 2016 lalu, Weibo memperoleh pendapatan sebesar USD119,3 juta (Rp1,5 triliun).

Sementara itu meski unggul dalam jumlah pengguna, Weibo belum mampu menyaingi Twitter dalam hal pendapatan, meski pendapatan Twitter mengalami penurunan pada kuartal pertama tahun ini jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Pada kuartal pertama 2017 yang berakhir pada bulan Maret, Twitter dilaporkan memperoleh pendapatan sebesar USD548 juta (Rp7,3 triliun). Pendapatan tersebut menurun dari pendapatan di periode yang sama tahun 2016, yaitu sebesar USD600 juta (Rp8 triliun).


(MMI)

Video /