Intel Tetap Kantongi Untung di Q3 2018

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 29 Oct 2018 20:23 WIB
intel
Intel Tetap Kantongi Untung di Q3 2018
Intel. (Alexander Tolstykh/Shutterstock)

Jakarta: Permasalahan Spectre dan Meltdown serta kendala produksi fabrikasi 10nm yang mengganggu pasokan pasar rupanya tidak terlalu berpengaruh terhadap bisnis Intel di Q3 2018/

Dalam pernyataan resmi Intel di situs mereka berisi laporan keuangan Q3 2018, disebutkan pertumbuhan pendapatan atau revenue year-on-year dibandingkan Q3 2017 tumbuh sebesar 19 persen. Pemasukan Intel di Q3 2018 sebesar USD19,2 miliar atau senilai Rp292 triliun.

Angka tersebut sangat signifikan apabila dibandingkan Q3 2017 yang hanya USD16,1 miliar atau senilai Rp245 triliun. Bahkan Intel mengklaim pendapatan tersebut didongkrak dari pendapatan yang melebih target di semua lini bisnis Intel.

"Pemintaan bisnis di segmen bisnis PC dan data-centric ternyata sangat kuat dibandingkan prediksi kami di kuartal ini. Kami berharap kedua segmen ini di kuartal keempat nanti tetap sangat kuat sehingga sepanjang tahun 2018 menjadi tahun dengan keuntungan yang besar bagi Intel," ungkap CFO & Interim CEO Intel Bob Swan.

Bisnis PC Intel di Q3 2018 menghasilkan revenue USD10,2 miliar (Rp155 triliun) dengan peningkatan 16 persen dibandingkan Q3 2017. Pihak Intel menuturkan bahwa bisnis ini didorong oleh kebutuhan prosesor untuk segmen komersial dan gaming.

Seperti yang diketahui bahwa Intel di kuartal ini memperkenalkan prosesor Intel Generasi ke-8 untuk seri U dan Y yang ditujukan pada perangkat laptop tipis dan 2-in-1. Intel juga menelurkan prosesor gaming terbaik di pasar, Core i9-9900K meskipun berbasis fabrikasi 14nm, bukan 10nm.

Di lini bisnis data, performa bisnis Intel sangat kuat di segmen Data Center Group dengan peningkatan sebesar 26 persen dibandingkan Q3 2017 dan mengantongi revenue USD6,1 miliar (Rp92,8 triliun).

Kepada investor, Swan juga mengaku Intel tengah memfokuskan proses produksi prosesor fabrikasi 10nm, dan pencarian CEO baru sebagai pengganti Brian Krzanich yang mundur pada bulan Juni lalu. Menurutnya proses produksi prosesor 10nm untuk tahun depan tidak akan tertunda lagi.

Tidak hanya itu Swan juga dikabarkan menyatakan bahwa fokus ke pengambangan prosesor berbasis fabrikasi 7nm juga sudah dalam perencanaan dan investasi tahun depan. Artinya Intel menolak bahwa posisinya tertinggal dari AMD yang sudah lebih dulu menyiapkan prosesor berbasis fabrikasi 7nm.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.