Evolusi Mozilla Firefox, dari PC ke Mobile

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 05 Nov 2018 22:49 WIB
mozilla firefox
Evolusi Mozilla Firefox, dari PC ke Mobile
Mozilla Firefox. (CNET)

Jakarta: Jumlah pengguna internet di Indonesia yang semakin meningkat membuat aplikasi seperti peramban internet atau browser semakin populer. Hal yang dilihat oleh Mozilla sebagai peluang untuk terus menawarkan peramban internet Firefox yang sejak lama dikenal desktop atau laptop.

Seiring perkembangannya, Mozilla Firefox terus berevolusi, tidak berhenti hanya menyediakan peramban internet berbasis desktop, tapi juga perangkat mobile dengan fitur yang dibutuhkan pengguna internet mobile terutama di Indonesia.

Mengutip data We Are Social, sekitar separuh pengguna internet mobile di Indonesia tidak mengakses internet di kecepatan jaringan 3G atau 4G. Padahal, mereka menginginkan akses internet cepat dan tetap menghemat konsumsi data.

Selain itu, pengguna internet Indonesia di perangkat mobile ingin aplikasi peramban internet yang juga ringan. Hal ini membuat Mozilla terus mendorong Firefox berevolusi dari masa ke masa.

Di tahun 2004, Mozilla telah meluncurkan aplikasi Firefox Quantum yang sudah hadir dengan ukuran file aplikasi yang ringan dan memiliki mode penghematan konsumsi data, dengan tetap menyajikan koneksi internet lebih cepat.

Tahun 2017, Mozilla secara khusus memperkenalkan peramban internet mobile yang lebih ringan lagi yaitu Firefox Rocket khusus Indonesia, yang dalam acara baru ini diperkenalkan lagi sebagai Firefox Lite untuk memperingati keberhasilan Firefox Rocket diterima di Indonesia.

Dalam acara peluncuran Moziila Firefox Lite di Indonesia, pihak Mozilla memaparkan bahwa evolusinya hingga saat ini terutama di Indonesia di dorong oleh sifat pengguna internet mobile di Indonesia.

“Kita ingin memberikan pesan yang lebih kuat kepada konsumen. Dengan logo yang kembali ke semula, sama seperti versi standar, konsumen bisa langsung mengenali bahwa ini adalah produk Mozilla,” ungkap Head of Product Mozilla Asia, Joe Cheng dalam konferensi pers peluncuran Firefox Lite di Jakarta, Kamis 1 November 2018.

Bersama Firefox Lite, Mozilla juga mengumumkan satu aplikasi baru bernama ScreenshotGO. Fokus pada perekaman halaman, ScreenshotGO bisa mengambil potongan gambar dari layar, dan pada konteks tertentu bisa mengubah halaman tersebut menjadi tulisan sepenuhnya.

Ini berguna untuk konsumen Indonesia yang ingin membaca satu halaman panjang tanpa harus terganggu gambar tak penting.

Di Google Play Store, Firefox Lite mendapatkan rating 4,6 bintang, diklaim sebagai skor tertinggi dibandingkan aplikasi serupa di pasar. Firefox Lite populer karena menyajikan aplikasi peramban internet yang paling dibutuhkan.

Firefox Lite memiliki ukuran kurang dari 3,5MB, separuh lebih kecil dari kompetitor yaitu Opera Mini dan 10 persen lebih kecil dibandingkan aplikasi Google Chrome maupun UC Browser. Hal ini membuatnya cocok untuk smartphone entry-level yang pasarnya sangat besar di Indonesia.

Mode Turbo di Firefox Lite diklaim mampu menghemat lebih dari 4.000 jam, setara waktu sepanjang lima bulan karena kemampuannya mengakses dan memuat sebuah halaman situs lebih cepat.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.