Ambisi Lenovo Hidupkan Kembali Moto di Indonesia

Mohammad Mamduh    •    Sabtu, 19 Nov 2016 21:22 WIB
lenovomotorolacorporatemoto
Ambisi Lenovo Hidupkan Kembali Moto di Indonesia
Ilustrasi: Flipboard

Metrotvnews.com, Labuan Bajo: Akuisisi Lenovo terhadap Motorola pada Oktober 2014 merupakan salah satu kabar yang cukup menyita banyak perhatian.

Langkah ini Lenovo ambil sebagai strategi mereka untuk memperkuat pijakan di industri smartphone. Motorola sendiri memang punya reputasi yang tidak diragukan di industri ini, sayangnya mereka tidak punya kekuatan yang cukup untuk bersaing.

Dalam acara akhir tahun Lenovo Media Camp di Labuan Bajo, NTT, Lenovo Indonesia menjelaskan bahwa akuisisi Motorola termasuk cara mereka memperkuat pangsa mereka di pasar Indonesia. Nantinya, Motorola atau yang sekarang disebut Moto, menjadi portofolio Lenovo di lini premium. Mereka akan memisahkan target pasarnya dengan merek Lenovo, yang siap menyasar konsumen kelas mainstream.

"Moto sebagai produk premium kami, dan varian Lenovo akan menyasar pasar mainstream," kata MBG Marketing Manager Lenovo Indonesia, Miranda Vania Warokka.

Namun, pihak Lenovo menyebutkan, mereka mempunyai pengertian kelas premium sendiri, dan tidak bisa dibandingkan dengan kompetitornya. Apa yang mereka ingin tekankan sebagai produk terbaik dengan teknologi terkini yang pernah diciptakan Lenovo.

Penjelasan ini pada akhirnya menimbulkan asumsi bahwa ponsel kelas terjangkau Moto E3 Power akan menjadi varian terakhir Moto di kelas menengah. Mobile Business Group 4P Manager Lenovo Indonesia, Anvid Erdian menyebutkan, mereka tidak akan berhenti sampai di situ.

"Moto E3 Power bukan menjadi ponsel terjangkau yang terakhir."

Seperti yang sudah dijelaskan, merek smartphone Lenovo akan hadir di segmen mainstream. Artinya, ponsel Lenovo akan menyasar konsumen kelas bawah dan menengah. Ruang lingkup pasarnya memang lebih luas. Keputusan ini sebenarnya sudah bisa konsumen lihat dengan ketiadaan penerus dari ponsel flagship mereka, VIBE Z2 Pro.

Sekadar informasi, seri VIBE sendiri juga lebih berfokus pada pasar kelas menengah, yang tetap menawarkan beberapa karakteristik, seperti VIBE Shot yang mengunggulkan kamera, VIBE P yang mengutamakan daya tahan baterai, VIBE S yang menekankan swafoto, serta VIBE K yang menawarkan virtual reality.

Jika berbicara dari segi spesifikasi dan berdasarkan penjelasan Lenovo, varian Moto seharusnya menggunakan hardware yang jauh lebih kencang dari rumpun VIBE, dan memiliki sejumlah fitur eksklusif, baik dari desain maupun software.

Motorola memang pernah menjadi salah satu merek favorit konsumen global. Mereka dikenal memiliki smartphone dengan material tahan banting dengan performa dan fitur yang menjanjikan. Jika Anda masih ingat, Motorola Razr adalah salah satu ponsel tercanggih di masanya.



Sayangnya, saat kedatangan Apple dan Samsung dengan penawaran yang menggiurkan membuat Motorola kehilangan pangsa pasar secara perlahan. Mereka menemui kendala setelah terlalu fokus di pasar high-end, sementara Apple dan Samsung punya berbagai macam smartphone yang lebih terjangkau dengan fitur yang tidak kalah menarik.

Kemunculan Google yang kemudian membeli Motorola tahun 2012 sesungguhnya bukan sebagai penyelamat. Minat Google saat itu adalah paten teknologi yang dimiliki Motorola. Segudang paten Motorola adalah bentuk perlindungan Google dalam mengembangkan Android yagn tertanam di smartphone dan tablet yang semakin menjamur. Pada saat itu, fokus Google adalah bersaing dengan Apple, BlackBerry, dan Microsoft lewat sistem operasi.

Seperti potensi yang terbuang, inilah yang menjadi alasan Lenovo tertarik membeli Motorola. Lenovo sendiri sudah cukup unggul di industri PC, dan mereka berharap dapat lebih kuat di industri mobile melalui Motorola.


(MMI)

Lenovo Thinkpad X1 Teranyar Muncul di CES 2018
CES 2018

Lenovo Thinkpad X1 Teranyar Muncul di CES 2018

2 days Ago

Lenovo perkenalkan keluarga baru ThinkPad X1 yang terdiri dari tiga jenis perangkat sekaligus d…

BERITA LAINNYA
Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.