Kemenristekdikti: Inovasi dan Riset Demi Daya Saing Indonesia

Riandanu Madi Utomo    •    Kamis, 09 Nov 2017 12:27 WIB
teknologi
Kemenristekdikti: Inovasi dan Riset Demi Daya Saing Indonesia
Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe, (MTVN / DANU)

Metrotvnews.com, Jakarta: Mengembangkan inovasi industri merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perekonomian dan daya saing Indonesia.

Sayangnya, banyak kendala yang menghadang perkembangan tersebut. Menurut Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe, ada beberapa masalah utamanya adalah edukasi terhadap paten.

"Sebuah inovasi harus dilindungi dan hal tersebut bisa dilakukan melalui paten," ujar Jumain saat memberikan kata sambutan di acara Fostering Innovation to Improve Indonesia's Competitiveness in The Region oleh Qualcomm, hari ini di Jakarta, Rabu (9/11/2017).

"Kami dari pemerintah sendiri sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempermudah proses pengajuan paten, salah satunya adalah melalui penerbitan undang-undang paten baru di tahun 2016."

Selain paten, Jumain juga menyinggung soal pembiayaan riset di Indonesia. Menurutnya saat ini industri di Indonesia masih hanya berupa produksi dan belum masuk ke ranah riset.

Sebagian besar pembiayaan riset di Indonesia saat ini masih dibiayai oleh pemerintah. Sayangnya, pembiayaan riset tersebut juga hanya 0,1 persen dari GDP.

"Industri di Indonesia saat ini masih sekadar 'pabrik', itulah mengapa sebagian besar riset kini dibiayai oleh pemerintah. Ini berkebalikan dengan negara maju yang sebagian besar dana riset berasal dari swasta," jelas Jumain.

"Tidak hanya itu, dana riset dari pemerintah juga tergolong sedikit yaitu hanya 0,1 persen dari GDP. Sementara negara tetangga kita, yaitu Singapura memiliki dana riset oleh pemerintah hingga 3 persen dari GDP."

Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut menurut Jumain adalah memfokuskan kapabilitas Indonesia ke industri tertentu. Ada beberapa fokus industri yang sedang digalangkan oleh pemerintah, beberapa di antaranya adalah industri transportasi, serta industri teknologi dan komunikasi.

Industri transportasi sangat dibutuhkan saat ini, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas. Fokus pemerintah adalah mengembangkan industri dirgantara, perkapalan, serta kereta api. Sementara di bidang telekomunikasi dan teknologi, pemerintah mendorong startup yang semakin banyak bermunculan di Indonesia.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.